Dalam keadaan bencana alam seperti gempa yang terjadi di wilayah Jogja dan sekitarnya, pertolongan pertama dan utama dilakukan oleh para korban bencana sendiri dalam kapasitas tertentu. Dalam hal ini, karakteristik kota dan warga Jogja yang dominan dengan nuansa kampung serta semangat gotong royong, sangat dibutuhkan dalam penanganan pertama dalam keadaan bencana alam di wilayah perkotaan.
Dari Combine Resource Institution (CRI), Rahman mengutarakan kepada GudegNet tentang sistem komunikasi dan koordinasi yang seharusnya dapat dijalin antara warga antar kampung. Tipe dan efek gempa yang terjadi menciptakan kerusakan yang tidak merata. Artinya ada beberapa daerah yang aman dan terkendali, akan tetapi, daerah tetangganya justru hancur lebur. Keadaan ini banyak terjadi di wilayah Jogja dan Bantul, serta Klaten.
Sementara bantuan dari pihak luar belum tiba, warga yang berada di daerah bencana dapat saling membantu dalam bidang logistik, medis, dan atau informasi. Pada hari pertama gempa, logistik belum menjadi masalah penting kecuali medis dan informasi. Di sini, stasiun-stasiun radio memberikan andil yang besar untuk pendistribusian informasi dari satu wilayah ke wilayah yang lain.
Namun pemetaan bencana secara imajiner melalui komunikasi radio masih dirasa sulit. Oleh karena itu, Baiquni bersama tim relawan dari Fakultas Geografi UGM, mencoba menerapkan konsep partisipatoris Community, Communication, Cartopraghy GIS. Dengan menggunakan informasi dari stasiun radio yang masih digunakan sebagai sarana tukar informasi antar komunitas warga yang paling efektif dan efisien, mereka akan memetakan kondisi bencana di berbagai lokasi dari Bantul hingga Klaten; dan kemudian informasi dalam bentuk peta kartografi tersebut dapat digunakan oleh tim relawan, pencari dan penyelamat, serta berbagai macam pihak yang lain untuk memudahkan proses penanganan korban fisik dan hayati pasca bencana gempa Jogja.
Apalagi bila koordinasi berhasil dilakukan dengan SAR, Satkorlak, atau tim-tim relawan, informasi yang didapat tentu akan menjadi lebih akurat dan dapat dipercayai validitasnya. Namun bagaimanapun juga, sumber informasi pertama mengenai kondisi bencana dan korban fisik dan hayati terutama berasal dari para korban bencana gempa itu sendiri.



Kirim Komentar