Reza bersama dua temannya terbata-bata membaca sebuah kata. Ibu guru yang duduk di depan mereka dengan sabar mengulang satu-satu huruf yang dirangkai menjadi kata itu. Reza bersama temannya berusaha membaca kata itu dengan benar. Setelah usaha yang cukup keras, akhirnya ia bisa mengucapkannya dengan benar.
Reza adalah murid dari Pelangi Indonesia. Sebuah lembaga pendidikan formal yang terdiri dari Playgroup, TK dan Day Care (penitipan anak) yang beralamat di Jl. Colombo 8 Yogyakarta. Kelas yang diikuti Reza pada waktu itu adalah kelas baca-tulis. Kelasnya unik, karena dibuat menyerupai kereta bawah tanah Jepang (shinkansen -red). Di sini, anak-anak kelas nol besar diajarkan bagaimana cara membaca sebuah kata dengan benar.
Masuk melalui pintu utama, anak-anak dihadang oleh sebuah pohon Natal yang besar dan gemerlap dengan lampu-lampu hias yang menarik perhatian banyak orang. Di bawah pohon, ada sekumpulan kotak berwarna warni yang biasa kita sebut kado. Tapi sayangnya, di dalam kado itu tidak ada isinya. Kotak itu dipajang hanya sebagai penghias pohon saja. Ya, karena pada waktu itu Natal sudah akan tiba.
Tak semua anak di Pelangi Indonesia merayakan Natal. Tapi pengenalan akan hari-hari raya semua agama sudah dimulai dari awal berdirinya di tahun 2003. Hal ini dilakukan untuk menjaga toleransi beragama dan juga menambah pengetahuan mereka tentang hari raya agama yang ada di Insonesia.
"Kalau Natal kita biasanya bernyanyi-nyanyi bersama atau tukar-tukaran kado. Kalau hari raya Idul fitri ya dibagian lobi kita buat nuansa Idul fitri yang identik dengan ketupat," jelas Ester Marliana, Marketing Pelangi Nusantara.
Kapasitas pikiran seorang anak jelas berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu konsep-konsep ajaran toleransi yang diberikan pun adalah ajaran-ajaran yang mendasar. Konsepnya hanya pada pengenalan semata, tidak lebih. "Mereka tetap diperkenalkan tentang hari-hari raya agama yang ada di Indonesia. Tapi kita (para pendidik -red) tidak berusaha mengkotak-kotakkan sehingga membuat agama-agama itu berbeda di mata anak-anak," jelas Ester.
Menurut Ester sampai saat ini tidak pernah terdengar anak-anak berkelahi di sekolah karena perbedaan prinsip tadi. Pertengkaran kecil layaknya anak-anak saja yang sering terjadi. Berebut makanan atau mainan. Yang jelas Pelangi Indonesia menerapkan konsep ini kepada anak-anak agar ke depannya semua anak Indonesia bisa bergandengan tangan dengan tujuan yang sama menjadi anak yang sesusi dengan slogan Pelangi Indonesia yaitu "smart and balanced kids".
Reza adalah murid dari Pelangi Indonesia. Sebuah lembaga pendidikan formal yang terdiri dari Playgroup, TK dan Day Care (penitipan anak) yang beralamat di Jl. Colombo 8 Yogyakarta. Kelas yang diikuti Reza pada waktu itu adalah kelas baca-tulis. Kelasnya unik, karena dibuat menyerupai kereta bawah tanah Jepang (shinkansen -red). Di sini, anak-anak kelas nol besar diajarkan bagaimana cara membaca sebuah kata dengan benar.
Masuk melalui pintu utama, anak-anak dihadang oleh sebuah pohon Natal yang besar dan gemerlap dengan lampu-lampu hias yang menarik perhatian banyak orang. Di bawah pohon, ada sekumpulan kotak berwarna warni yang biasa kita sebut kado. Tapi sayangnya, di dalam kado itu tidak ada isinya. Kotak itu dipajang hanya sebagai penghias pohon saja. Ya, karena pada waktu itu Natal sudah akan tiba.
Tak semua anak di Pelangi Indonesia merayakan Natal. Tapi pengenalan akan hari-hari raya semua agama sudah dimulai dari awal berdirinya di tahun 2003. Hal ini dilakukan untuk menjaga toleransi beragama dan juga menambah pengetahuan mereka tentang hari raya agama yang ada di Insonesia.
"Kalau Natal kita biasanya bernyanyi-nyanyi bersama atau tukar-tukaran kado. Kalau hari raya Idul fitri ya dibagian lobi kita buat nuansa Idul fitri yang identik dengan ketupat," jelas Ester Marliana, Marketing Pelangi Nusantara.
Kapasitas pikiran seorang anak jelas berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu konsep-konsep ajaran toleransi yang diberikan pun adalah ajaran-ajaran yang mendasar. Konsepnya hanya pada pengenalan semata, tidak lebih. "Mereka tetap diperkenalkan tentang hari-hari raya agama yang ada di Indonesia. Tapi kita (para pendidik -red) tidak berusaha mengkotak-kotakkan sehingga membuat agama-agama itu berbeda di mata anak-anak," jelas Ester.
Menurut Ester sampai saat ini tidak pernah terdengar anak-anak berkelahi di sekolah karena perbedaan prinsip tadi. Pertengkaran kecil layaknya anak-anak saja yang sering terjadi. Berebut makanan atau mainan. Yang jelas Pelangi Indonesia menerapkan konsep ini kepada anak-anak agar ke depannya semua anak Indonesia bisa bergandengan tangan dengan tujuan yang sama menjadi anak yang sesusi dengan slogan Pelangi Indonesia yaitu "smart and balanced kids".



Kirim Komentar