Sejak Sabtu (6/6), Pasar Kangen Jogja berhasil merubah Taman Budaya Yogyakata (TBY) mendadak berubah menjadi pasar tradisional. Sejumlah makanan dan jajanan tradisonal bisa ditemui di area The Window of Yogyakarta ini. Sebut saja kipo, klepon, cenil, thiwul, gethuk, jenang, besengek, slondok, srabi, krupuk telo, dawet, hingga sego gudangan, yang kini semakin susah untuk dijumpai di sejumlah pasar baik pasar tradisional apalagi di pasar moderen. Selain menawarkan sejumlah makanan tradisional, Pasar Kangen Jogja yang merupakan kegiatan tahunan TBY juga menghadirkan sejumlah kesenian tradisional dari empat kabupaten dan kota di DIY. Sebagai pentas awal, kesenian tradisional Reog Putri dari Gunung Kidul tampil untuk menghibur ratusan pengunjung yang hadir dalam pembukaan Pasar Kangen Jogja.
Tampil sebagai pembuka, seniman tari Didik Nini Thowok memecahkan kendi serta dilanjutkan dengan ngamen mengelilingi setiap penjual makanan untuk mengumpulkan dana.
Pasar Kangen Jogja, yang akan berlangsung hingga 11 Juni mendatang memang ditujukan bagi masyarakat yang telah lama kangen akan nuansa tradisional yang ada di pasar tradisional yang kini keberadaannya mulai tergerus.
Dengan kegiatan ini, diharapkan segala hal yang berhubungan dengan tradisi selalu dipertahankan karena bagaimanapun tradisi adalah kekayaan leluhur yang tak ternilai.
Yang menarik dari Pasar Kangen Jogja adalah, sejumlah pengunjung yang hadir mendapatkan tiga keping uang pecahan seribu rupiah yang terbuat dari tanah liat. Dengan jumlah tersebut, ternyata makanan tradisional yang ada di Pasar Kangen Jogja bisa terbeli. Sebagai contoh, satu bungkus kipo dan twiwul dapat dinikmati hanya dengan uang seribu rupiah saja.
Selain menampilkan makanan dan seni tradisional, Pasar Kangen Jogja juga diisi dengan pameran sejumlah barang seni dan kerajinan, sejumlah workshop seni dan kerajinan, serta pemutaran film layar tancap.



Kirim Komentar