Rencana penurunan bea impor susu sapi membuat peternak sapi perah khawatir. Menurut mereka, dalam hal kualitas, produk impor bisa saja mengalahkan produk susu sapi lokal mereka.
"Penurunan pajak impor sebesar lima persen cukup mengkhawatirkan kami, tapi bagaimanapun kami harus tetap menangkisnya dengan produk susu sapi lokal kami," kata Sarijani, peternak sapi perah dari Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem, Sleman DIY, Jumat (19/6).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, peternak sapi di Sleman berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas susu sapi perah mereka agar dapat diterima oleh pabrik susu.
"Peternak juga harus menjaga higienitas dan kualitas susu agar bisa masuk pabrik, bukan hanya ingin kenaikan harga susu saja," ujarnya.
Menurutnya, saat ini susu produksi peternak di Sleman dihargai tertinggi Rp 3.150 per liter. Jika kualitasnya tidak seperti yang diajukan pabrik PT Sari Husada, harganya bisa turun hingga Rp 2.750 per liter.
Sarijani khawatir jika bea impor susu jadi diturunkan, diperkirakan harga susu impor bisa lebih murah yaitu sekitar Rp 3.000 per liter atau bahkan lebih murah. Harga ini tentu akan mengancam harga susu produksi mereka.
Mengenai kualitas susu, produksi susu dari peternak lokal di Sleman masih memiliki angka kuman sekitar 3 juta per cc dengan kapasitas produksi seekor sapi adalah sekitar 10 liter per hari.
Sementara itu, Bugi Rustamadji, anggota tim peningkatan mutu susu yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan kualitas susu di Jawa Tengah dan DIY masih memprihatinkan dalam hal angka kumannya yang masih berkisar antara 1-11 juta per cc.
Menurut penilaian Standar Nasional Indonesia (SNI), angka kuman yang ada dalam susu harusnya kurang dari satu juta per cc. Saat ini, untuk mencapai angka kuman kurang dari 3 juta per cc saja belum bisa terpenuhi.
"Penurunan pajak impor sebesar lima persen cukup mengkhawatirkan kami, tapi bagaimanapun kami harus tetap menangkisnya dengan produk susu sapi lokal kami," kata Sarijani, peternak sapi perah dari Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem, Sleman DIY, Jumat (19/6).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, peternak sapi di Sleman berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas susu sapi perah mereka agar dapat diterima oleh pabrik susu.
"Peternak juga harus menjaga higienitas dan kualitas susu agar bisa masuk pabrik, bukan hanya ingin kenaikan harga susu saja," ujarnya.
Menurutnya, saat ini susu produksi peternak di Sleman dihargai tertinggi Rp 3.150 per liter. Jika kualitasnya tidak seperti yang diajukan pabrik PT Sari Husada, harganya bisa turun hingga Rp 2.750 per liter.
Sarijani khawatir jika bea impor susu jadi diturunkan, diperkirakan harga susu impor bisa lebih murah yaitu sekitar Rp 3.000 per liter atau bahkan lebih murah. Harga ini tentu akan mengancam harga susu produksi mereka.
Mengenai kualitas susu, produksi susu dari peternak lokal di Sleman masih memiliki angka kuman sekitar 3 juta per cc dengan kapasitas produksi seekor sapi adalah sekitar 10 liter per hari.
Sementara itu, Bugi Rustamadji, anggota tim peningkatan mutu susu yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan kualitas susu di Jawa Tengah dan DIY masih memprihatinkan dalam hal angka kumannya yang masih berkisar antara 1-11 juta per cc.
Menurut penilaian Standar Nasional Indonesia (SNI), angka kuman yang ada dalam susu harusnya kurang dari satu juta per cc. Saat ini, untuk mencapai angka kuman kurang dari 3 juta per cc saja belum bisa terpenuhi.



Kirim Komentar