Sebanyak 11 desa wisata di Sleman menyatakan kesiapannya dalam
menyambut musim liburan lebaran 2009 ini. Ke-11 desa tersebut adalah
Brayut, Sambi, Plempoh, Srowolan, Gamplong, Sidoakur, Turgo, Kelor,
Pentingsari, Kembangarum, dan Petung.
"Secara keseluruhan, desa wisata menawarkan 323 kamar dengan daya tampung sekitar 574 orang. Dari 323 kamar tersebut, sudah dipesan 50 kamar yaitu di desa wisata Kembangarum," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dwi Supriyatno.
Dwi menyatakan, paket wisata yang ditawarkan di masing-masing desa wisata antara lain obyek wisata alam, tarian klasik, kethoprak, wayang kulit, cokean, tour andong, trekking, karawitan, bertani, perah susu, memandikan kerbau, belajar seni budaya, sunset dan sunrise, magang membuat kerajinan ATBM, gejog lesung, pelatihan komposting, pelatihan jamu tradisional, pembuatan kopi, dll.
Dari data tersebut, Dwi merasa optimis dengan keberadaan dan perkembangan desa wisata yang akhir-akhir ini telah mulai menjadi pilihan bagi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun manca negara.
"Desa wisata menawarkan suasana dan kondisi alami kehidupan ala pedesaan. Wisatawan dapat melihat secara langsung aktivitas budaya dan aktivitas hidup keseharian masyarakat pedesaan, makanan khas dan alami ala pedesaan. Ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan khususnya yang berasal dari kota-kota besar yang rindu akan kehidupan masa lalunya," ujarnya.
Saat ini, pemerintah daerah bersama-sama dengan Forum Komunikasi Desa Wisata serta pengelola desa wisata akan terus mengembangkan desa wisata di Kabupaten Sleman. Hal ini sejalan dan merupakan implementasi program pemerintah dalam upaya melakukan penguatan sektor pedesaan, sehingga di satu sisi merupakan upaya untuk menahan laju urbanisasi dan dilain sisi untuk menumbuhkan akses pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan bagi warga masyarakat pedesaan.
Pada musim lebaran tahun 2008 lalu, hanya tujuh desa wisata di Sleman yang siap menerima tamu wisatawan. Sejak 29 September – 12 Oktober 2008 lalu, sekitar 1.324 wisatawan berkunjung dan bermalam di desa-desa wisata seperti Plempoh Bokoharjo Prambanan, Kembangarum Donokerto Turi, Brayut Pendowoharjo Sleman, Srowolan Purwobinangun Pakem, Tanjung Donoharjo Ngaglik, Kelor Bangunkerto Turi dan Ledoknongko Bangunkerto Turi, Pentingsari Umbulharjo Cangkringan, dan Ketingan Tirtoadi Mlati.
Tak hanya wisatwan domestik, wisatawan mancanegara pun mulai tertarik dengan desa wisata. Dari 1.324 wisatawan, 1.302 orang atau 98 persen adalah wisatawan domestik, sedangkan 22 atau 2 persen merupakan wisatawan mancanegara.
Persebaran kunjungan wisatawan tersebut yakni ke desa wisata Plempoh mencapai 567 wisatawan dengan perincian 550 wisnus dan 17 wisman, Kembangarum 340 wisnus, Kelor 95 wisnus, Brayut 200 wisnus dan 4 wisman, Pentingsari 70 wisnus, Ledoknongko 40 wisnus, Tanjung 7 wisnus, dan Ketingan 1 wisman.
Di antara wisatawan asing yang berkunjung ke desa-desa wisata berasal dari Korea, Belanda, Malaysia, Philipina, Thailand, dan Jepang. Wisatawan Belanda menginap di desa wisata Plempoh Bokoharjo Prambanan untuk melakukan aktivitas ceramah budaya, treking, aktivitas pertanian, dll, wisatawan asing lainnya melakukan aktivitas didesa bersama masyarakat setempat.
Sedangkan wisatawan domestik rata-rata melakukan aktivitas syawalan dan halal bil halal, menikmati suasana alam di desa maupun outbound keluarga. Selain berasal dari Yogyakarta, wisatawan lokal juga dari luar kota seperti Jakarta, Magelang, Surabaya, Kerawang, Kalimantan, Riau, dan lain-lain.
"Secara keseluruhan, desa wisata menawarkan 323 kamar dengan daya tampung sekitar 574 orang. Dari 323 kamar tersebut, sudah dipesan 50 kamar yaitu di desa wisata Kembangarum," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dwi Supriyatno.
Dwi menyatakan, paket wisata yang ditawarkan di masing-masing desa wisata antara lain obyek wisata alam, tarian klasik, kethoprak, wayang kulit, cokean, tour andong, trekking, karawitan, bertani, perah susu, memandikan kerbau, belajar seni budaya, sunset dan sunrise, magang membuat kerajinan ATBM, gejog lesung, pelatihan komposting, pelatihan jamu tradisional, pembuatan kopi, dll.
Dari data tersebut, Dwi merasa optimis dengan keberadaan dan perkembangan desa wisata yang akhir-akhir ini telah mulai menjadi pilihan bagi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun manca negara.
"Desa wisata menawarkan suasana dan kondisi alami kehidupan ala pedesaan. Wisatawan dapat melihat secara langsung aktivitas budaya dan aktivitas hidup keseharian masyarakat pedesaan, makanan khas dan alami ala pedesaan. Ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan khususnya yang berasal dari kota-kota besar yang rindu akan kehidupan masa lalunya," ujarnya.
Saat ini, pemerintah daerah bersama-sama dengan Forum Komunikasi Desa Wisata serta pengelola desa wisata akan terus mengembangkan desa wisata di Kabupaten Sleman. Hal ini sejalan dan merupakan implementasi program pemerintah dalam upaya melakukan penguatan sektor pedesaan, sehingga di satu sisi merupakan upaya untuk menahan laju urbanisasi dan dilain sisi untuk menumbuhkan akses pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan bagi warga masyarakat pedesaan.
Pada musim lebaran tahun 2008 lalu, hanya tujuh desa wisata di Sleman yang siap menerima tamu wisatawan. Sejak 29 September – 12 Oktober 2008 lalu, sekitar 1.324 wisatawan berkunjung dan bermalam di desa-desa wisata seperti Plempoh Bokoharjo Prambanan, Kembangarum Donokerto Turi, Brayut Pendowoharjo Sleman, Srowolan Purwobinangun Pakem, Tanjung Donoharjo Ngaglik, Kelor Bangunkerto Turi dan Ledoknongko Bangunkerto Turi, Pentingsari Umbulharjo Cangkringan, dan Ketingan Tirtoadi Mlati.
Tak hanya wisatwan domestik, wisatawan mancanegara pun mulai tertarik dengan desa wisata. Dari 1.324 wisatawan, 1.302 orang atau 98 persen adalah wisatawan domestik, sedangkan 22 atau 2 persen merupakan wisatawan mancanegara.
Persebaran kunjungan wisatawan tersebut yakni ke desa wisata Plempoh mencapai 567 wisatawan dengan perincian 550 wisnus dan 17 wisman, Kembangarum 340 wisnus, Kelor 95 wisnus, Brayut 200 wisnus dan 4 wisman, Pentingsari 70 wisnus, Ledoknongko 40 wisnus, Tanjung 7 wisnus, dan Ketingan 1 wisman.
Di antara wisatawan asing yang berkunjung ke desa-desa wisata berasal dari Korea, Belanda, Malaysia, Philipina, Thailand, dan Jepang. Wisatawan Belanda menginap di desa wisata Plempoh Bokoharjo Prambanan untuk melakukan aktivitas ceramah budaya, treking, aktivitas pertanian, dll, wisatawan asing lainnya melakukan aktivitas didesa bersama masyarakat setempat.
Sedangkan wisatawan domestik rata-rata melakukan aktivitas syawalan dan halal bil halal, menikmati suasana alam di desa maupun outbound keluarga. Selain berasal dari Yogyakarta, wisatawan lokal juga dari luar kota seperti Jakarta, Magelang, Surabaya, Kerawang, Kalimantan, Riau, dan lain-lain.



Kirim Komentar