Seni & Budaya

300-an Seniman Akan Turut Biennale Jogja X-2009

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Sekitar 300 seniman dari lintas media dan aliran akan turut dalam perhelatan akbar dua tahunan Biennale Jogja X-2009 yang akan digelar pada 10 Desember 2009 - 10 Januari 2010 mendatang.

Setidaknya, ada 130 perupa (di antaranya Heri Dono, Dadang Christanto, Djoko Pekik, Jumaldi Alfi, Nasirun, Totok Buchori, Edi Hara, Rudi Manthovani dan masih seabreg lagi perupa lainnya) yang akan terlibat dalam pameran in door," kata Direktur Biennale Jogja X-2009 di TBY, Kamis (5/11).

Sementara, tak kurang dari 150 seniman/kelompok (seperti Kelompok Seringgit, Dicky Tjandra, Albara, Kelompok Hitam Manis) terlibat "mempercantik" kota Yogya dengan karya-karyanya yang tersebar di jalanan, tembok di kampung-kampung, bahkan stasiun, halte bus maupun di atas kendaraan pribadi maupun umum. Atau bisa dikatakan, seluruh ruang publik yang ada di kota Yogya akan diisi.

Pada Biennale tersebut, seluruh perupa akan mempertunjukkan puncak prestasinya ke hadapan publik di empat tempat yakni Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, gedung Bank Indonesia dan Sangkring Art Space. Selain itu karya seniman tersebut juga dapat ditemui di kampung yang ada di seantero Jogja.

Dengan Biennale, Jogja akan berubah wajah oleh sentuhan karya para perupa. Mereka ingin menunjukkan, setidaknya dalam satu bulan penuh, Jogja memang layak disebut kota seni, kota budaya, kota yang menghasilkan dan menggembleng seniman dalam berbagai bidang.

"Semua ini berkat support yang luar biasa dari walikota Yogya, Herry Zudianto yang mempersilakan untuk memanfaatkan ruang publik yang ada untuk kepentingan Biennale Jogja X. Juga dukungan dari Pemda Kabupaten Sleman dan PemProv DIY serta para pemilik baliho," tutur Ong Hari Wahyu, salah satu Dewan Kurator Biennale Jogja X-2009.

Publik akan bisa melihat betapa dahsyatnya patung-patung seri presiden RI dengan ukuran besar disajikan oleh Albara. Anda juga bisa menemui patung presiden Obama yang akan naik becak berkeliling kota. Demikian pula poster/stiker anti teroris atau perupa Saftari akan membuat patung korek yang akan diletakkan di suatu SPBU. Tak lupa perupa tradisional seperti Mbah Tjip akan mengeluarkan seri Ramayana serta Mbah Lejar menampilkan karyanya wayang revolusi. Sementara di gedung Bank Indonesia dan Sangkring Art Space, para pengunjung bisa melihat karya-karya yang dibuat para perupa yang hidup di zaman kemerdekaan, seperti Affandi dan lain sebagainya.

Karya para perupa/seniman yang akan dipamerkan kehadapan publik jelas pula telah melalui seleksi dan diskusi yang ketat dengan tim kurator yang terdiri : Wahyudin, Hermanu, Eko Prawoto, dan Samuel Indratma. Dan diperkuat Dewan Kurator: Sindhunata, DR Agus Burhan dan Ong Harry Wahyu. "Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja," demikian tema yang diambil pada Biennale Jogja X-2009.

Tema tersebut sengaja diambil, menurut Wahyudin, salah seorang kurator, untuk menunjukkan kota Yogya bukanlah sebuah omong kosong jika disebut kota budaya. Sebuah kota yang melahirkan serta menggembleng seniman besar yang kini banyak tersebar di seantero Indonesia, bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Sebuah kota yang bergerak dalam pemikiran modern namun tetap tak meninggalkan tradisi. Kota yang tetap mengedepankan persaudaraan, keguyuban serta kenyamanan.  

"Dinamika kesenian di Yogya  bisa diibaratkan seperti jam session dalam musik.  Setiap seniman saling merespons dalam proses kreatif. Denyut inilah yang hendak direfleksikan dalam Biennale Jogja X-2009. Tema Jogja Jamming berbasiskan pada dinamika wacana seni rupa yang berlangsung di setiap dekade," tambah Butet Kartaredjasa, Direktur Biennale Jogja X -2009.

Jika kita kilas balik seni rupa Yogyakarta, menurut Butet, maka kita akan menemui sebuah semangat yang menjadi penanda zamannya.  Humanisme Kerakyatan, telah menjadi penanda semangat yang dominan di zaman Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono yang merupakan generasi pemula seni rupa modern Indonesia   hingga tahun 1960an. ASRI (kini ISI Yogya) yang berdiri pada tahun 1950an, tidak bisa tidak juga membawa wacana tersebut yang kemudian membedakan dirinya dari  wacana yang menguat di Bandung misalnya.

Di masa rezim orde baru, wacana yang terbangun dalam seni rupa pun cenderung apolitis. Bentuk-bentuk estetika dominan yang berkembang lebih mengarah pada semangat humanisme universal dengan menguatnya seni abstrak, dekoratif, dan lain-lain. Belakangan, kita juga mengetahui, "semangat" yang berimplikasi pada laku dan pilihan estetik, digugat oleh generasi setelahnya, seperti tercermin dalam "Gerakan Seni Rupa Baru" dan "Seni Kepribadian Apa".

Kemudian, kecenderungan di luar dunia seni rupa, yaitu perbincangan tentang me-"lokal" dan meng-"global" pada tahun 1980-an telah menyeret praktek-praktek seni rupa Yogya. Dalam hal ini, perhelatan Biennale Seni Lukis I hingga Biennale Jogja IX dapat dijadikan sebagai studi kasus, terutama soal-soal organisasi pelaksanaannya. Hingga yang paling kontemporer, praktek-praktek seni rupa yang tidak bisa menghindar dari budaya urban dan kecenderungan pasar.

"Berdasarkan semangat yang berbasis pada sejarah seni rupa Yogya inilah , lebih dari 200 seniman akan menginterpretasi semangat zaman yang telah ditorehkan para seniman dari rentang tahun 1940-an hingga yang terkini era 2000-an," kata Butet.

Dalam perbincangannya, Butet juga kembali menegaskan, Biennale kali ini diharapkan akan melahirkan Lembaga Biennale yang kelak  menjadi lembaga permanen. Lembaga yang nantinya didanai APBD ini akan berkonsentrasi pada penyelenggaraan Biennale Yogya dua tahun sekali, menggalang dana abadi, memperkuat jaringan seni rupa tingkat nasional dan internasional, serta membangun infrastruktur seni rupa. Ini merupakan impian lama, dan kali ini akan terwujud nyata.

"Kini sudah ada panitia kecil yang terus menggodok keberadaan lembaga Biennale itu," ujar Butet seraya menerangkan, setidaknya ada 12 orang menjadi panitia kecil ini, antara lain Soewarno Wisetrotomo, Neni, Nindityo, Kuss Indarto, Tita Rubi, Anggi, Kusen Ali, Kusworo Bayu Aji, Ong Hari Wahyu dan Dian Anggreni.

"Kepanitiaan kecil ini melibatkan semua kelompok yang ada, mengingat ini adalah kerja masyarakat senirupa Yogya secara keseluruhan," tambah Ong Hari Wahyu.

Menurut Butet, adanya lembaga yang formatnya tengah digodok ini ditargetkan memjadikan Biennale Yogya mendatang lebih terjaga kualitasnya di samping dijamin kesinambungannya. "Jadi nantinya Biennale ini akan dipegang dan dipikirkan oleh orang-orang yang duduk di lembaga ini, tidak seperti sekarang ini yang setiap menjelang Biennale baru dibentuk panitia sehingga kerjanya kurang maksimal," tambah Butet.

Ditambahkan Dian Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), menyelenggarakan Biennale tak bisa dibuat main-main, mengingat tantangan Biennale ke depan semakin kompleks. Terlebih lagi semangatnya adalah perhelatan akbar seni rupa ini harus mempunyai karakter dan bisa berskala internasional.

"Karena itu menangani Biennale tak cukup hanya dilakukan oleh sebuah panitia yang baru dibentuk menjelang akan diselenggarakan saja. Terlebih lagi kalau nantinya diputuskan untuk menggodok visi Biennale Yogya," tutur Dian.

Butet mengemukakan pula, lembaga Biennale yang segera terbentuk ini juga sudah mendapat dukungan penuh oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Beberapa waktu lalu, sejumlah seniman yang terlibat dalam kepanitaan Biennale X-2009 ini sempat pula bertemu dengan Sultan. Dalam perbincangannya yang berlangsung selama dua jam itu pada akhir Agustus lalu, Sultan sangat apresiatif adanya lembaga itu. Sebab, kata Sultan, dengan adanya lembaga tentu akan lebih mudah menstrategikan perhelatan seni secara berkesinambungan.

Tak kalah penting dari itu—sebagai sebentuk penghormatan kepada para perupa yang telah mengabdikan penuh-seluruh hidupnya untuk berkarya di dunia senirupa—Yogyakarta Biennale X akan memberikan "Lifetime Achivement Award" kepada perupa yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM



    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini