Film Pertaruhan dinobatkan sebagai Film Terbaik pada Festival Film Dokumenter (FFD) 2009. Film karya Ucu Agustin, dkk ini dipilih karena memiliki tema yang sangat kuat yakni tentang perempuan.
Salah satu anggota juri, G Budi Subanar menyatakan, meski keseluruhan film masih klise dan cenderung banyak hal-hal kurang efektif untuk dimasukkan dalam film, tapi film Pertaruhan memang layak menjadi yang terbaik.
"Tiga film lainnya memang lebih mendalam, namun masih terlihat konvensional dan kurang post modern. Isu yang kuat tentang perempuan mengalahkan nominator lainnya," katanya di Benteng Vredeburg, Senin (14/12).
Film Pertaruhan berhasil menyingkirkan tiga film nominator dalam kategori film terbaik FFD yakni Kambing Cup, Perampok Ulung, dan Ayam Mati di Lumbung Padi.
Untuk Film Terbaik Kategori Pelajar, yang menjadi terbaik adalah Indonesia Bukan Negara Islam, Karya Jason Iskandar. Salah satu juri, Zamzam Fauzanafi menyatakan pada tahun ini ada beberapa perkembangan dalam hal tema dan perspektif dari sisi pelajar.
Film Indonesia Bukan Negara Islam berhasil menyingkirkan pesaingnya yakni Bukan se – Mbarang, Cosplay, Mangroove Untuk Umur Balikpapan Yang Lebih Panjang, dan Cheat Chat Bingo.
Pada Kategori Pendek, film Gorila dari Gang Buntu, Karya Bambang Rahkmanto dan Ryo Hadindra Permana menjadi film terbaik yang dipilih oleh juri FFD yang terdiri dari Tonny Trimarsanto, Marianna Yarovskaya, dan Novi Kurnia.
Film Gorila dari Gang Buntuk dinilai cukup insiratif dan mampu bercerita dengan baik sehingga mampu membuat penonton tahu permasalahan subjek dalam film. Selain itu, setelah melalui riset, film ini mampu mengungkapkan persoalan dengan bahasa yang sangat humanis dikombinasikan dengan humor yang baik.
Sementara untuk Film Dokumenter Favorit Pilihan Juri Komunal yang terpilih adalah Ngundal Piwulang Wandu Dalang Waria Karya Kuncoro Indra Kurniawan dan Kukuh Yudha Karnanta.
Para juri menilai bahwa film tersebut mengangkat sisi cerdas dari seorang waria dalam menjunjung tinggi kearifan lokal yakni dalam hal budaya wayang. Film yang sederhana dan apa adanya ini diharap bisa mejadi media edukasi untuk bagi kaum pria dan wanita di Indonesia.
Salah satu anggota juri, G Budi Subanar menyatakan, meski keseluruhan film masih klise dan cenderung banyak hal-hal kurang efektif untuk dimasukkan dalam film, tapi film Pertaruhan memang layak menjadi yang terbaik.
"Tiga film lainnya memang lebih mendalam, namun masih terlihat konvensional dan kurang post modern. Isu yang kuat tentang perempuan mengalahkan nominator lainnya," katanya di Benteng Vredeburg, Senin (14/12).
Film Pertaruhan berhasil menyingkirkan tiga film nominator dalam kategori film terbaik FFD yakni Kambing Cup, Perampok Ulung, dan Ayam Mati di Lumbung Padi.
Untuk Film Terbaik Kategori Pelajar, yang menjadi terbaik adalah Indonesia Bukan Negara Islam, Karya Jason Iskandar. Salah satu juri, Zamzam Fauzanafi menyatakan pada tahun ini ada beberapa perkembangan dalam hal tema dan perspektif dari sisi pelajar.
Film Indonesia Bukan Negara Islam berhasil menyingkirkan pesaingnya yakni Bukan se – Mbarang, Cosplay, Mangroove Untuk Umur Balikpapan Yang Lebih Panjang, dan Cheat Chat Bingo.
Pada Kategori Pendek, film Gorila dari Gang Buntu, Karya Bambang Rahkmanto dan Ryo Hadindra Permana menjadi film terbaik yang dipilih oleh juri FFD yang terdiri dari Tonny Trimarsanto, Marianna Yarovskaya, dan Novi Kurnia.
Film Gorila dari Gang Buntuk dinilai cukup insiratif dan mampu bercerita dengan baik sehingga mampu membuat penonton tahu permasalahan subjek dalam film. Selain itu, setelah melalui riset, film ini mampu mengungkapkan persoalan dengan bahasa yang sangat humanis dikombinasikan dengan humor yang baik.
Sementara untuk Film Dokumenter Favorit Pilihan Juri Komunal yang terpilih adalah Ngundal Piwulang Wandu Dalang Waria Karya Kuncoro Indra Kurniawan dan Kukuh Yudha Karnanta.
Para juri menilai bahwa film tersebut mengangkat sisi cerdas dari seorang waria dalam menjunjung tinggi kearifan lokal yakni dalam hal budaya wayang. Film yang sederhana dan apa adanya ini diharap bisa mejadi media edukasi untuk bagi kaum pria dan wanita di Indonesia.



Kirim Komentar