Sosial Ekonomi

Berburu Kapal Othok-othok di Sekaten

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00
Berburu Kapal Othok-othok di Sekaten

Memasuki gerbang Sekaten dari arah utara, mata Anda akan mudah tertuju pada sisi sebelah kanan atau sebelah barat jalan masuk utama Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Sejumlah mainan kapal-kapalan berwarna-warni memang dengan mudah akan menarik perhatian setiap pengunjung Sekaten yang datang.

Mainan tradisional yang satu ini mungkin hanya dijual hanya di pasar malam Sekaten, namanya perahu Klotok atau kapal kaleng. Bunyi yang dihasilkan akan berbunyi othok-othok wajar saja jika ada yang menyebutnya kapal othok-othok.

"Bentuknya yang unik terbuat dari kaleng yang dibentuk menyerupai kapal atau perahu dan dimainkan di air dengan bahan bakar minyak goreng dan kapas yang dibakar," ujar seorang penjual kapal othok-othok asal Cirebon yang sudah berjualan sejak tahun 1980, Sukiman di Sekaten, Selasa (2/2).

Menurutnya, cara memainkannya adalah, mula-mula air dimasukkan dahulu ke pipa knalpot kapal yang kemudian akan masuk ke tempat penampung atau tungku dalam kapal. Kapas yang dilumuri minyak goreng kemudian dibakar dan dimasukkan kedalam rongga di kapal.

"Air yang tadi dimasukan akan dipanaskan oleh lampu kecil berbahan minyak goreng tadi, uap air ini lah yang akan mendorong kapal mainan hingga dapat bergerak," ujarnya dengan jelas.

Jika air habis atau kering, Sukiman mengatakan maka kapal mainan tidak akan berjalan lagi dan perlu di isi lagi dengan air. Sentra pembuatan mainan ini ada di daerah Cirebon dan wilayah Pantura namun penyebarannya jauh hingga wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta bahkan hingga luar Jawa. Dengan gampang mainan ini ditemukan pada waktu pasar malam atau acara tradisional lainnya, mungkin mainan ini dijual juga selain di pasar malam tapi tidak banyak.

Sukiman yang asli Cirebon memang sengaja datang ke Yogyakarta hanya untuk berjualan kapal-kapalan ini, selama di Yogyakarta dirinya mengontrak sebuah rumah bersama rombongan penjual kapal lain di sekitar Jalan Pekapalan." Saya keliling dari kota satu ke kota lainnya jika ada acara tradisional seperti pasar malam ini bersama rombongan yang berjumlah kurang lebih 50 orang," katanya.

Harga mainan ini terbilang murah, dari Rp 6 ribu hingga Rp 10 ribu, Sukiman bersama rombongan memang sengaja membawa stok kapal kurang lebih 500 buah untuk dijual sebulan. Mengingat persaingan berbagai jenis mainan yang dijual sekarang ini memang sedikit mengkhawatirkan keberadaannya.

Jenis mainan buatan tangan ini sudah hampir tergeser bahkan tergantikan oleh mainan pabrikan yang harganya jauh lebih murah. Bentuk mainan modern lain akan lebih beragam, namun nilai sejarah dan kenangan kapal-kapalan ini menjadi nilai lebih. Mungkin pengenalan terhadap anak juga perlu dilakukan agar mainan ini tak kalah saing dengan mainan modern lainnya. Dalam sehari Sukiman hanya dapat menjual dua puluh buah itupun jika tidak hujan.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini