Seni & Budaya

Pameran Seni Rupa "Romansa 91"

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00
Pameran Seni Rupa

Seorang ibu bersama anak perempuan yang digendongnya tampak tersenyum-senyum menyaksikan lomba berjalan antarsiput. Si anak tampak gemas dengan apa yang ia lihat. Ia menelangkupkan kedua tangannya menjadi satu. Sementara si ibu juga tak berhenti tersenyum kagum.

Pemandangan menarik antara ibu dan anak itu tertangkap kamera ketika sedang menikmati karya instalasi "Reformasi Racing Team" karya Tommy Tanggara berupa beberapai siput sedang berlomba berjalan dilintasan masing-masing menuju finish.

Karya instalasi Tommy Tanggara yang tercipta dari fiber, kayu dan cat akrilik ini bercerita tentang jaman reformasi di tanah air yang bergerak begitu pelan seperti jalannya siput. Saking lambatnya ia menjadi seolah berhenti. Sudah lebih sepuluh tahun era reformasi berjalan, semua sektor kehidupan malah semakin melambat.

Instalasi "Reformasi Racing Team" ini adalah salah satu karya dari para mahasiswa ISI Program Seni Murni Jurusan Seni Rupa Institut Seni Yogyakarta angkatan 1991 yang sedang menyelenggarakan pameran bersama di Sangkring Art Space Yogyakarta 14 Februari-7 Maret 2010 mendatang.

Sebanyak 21 seniman alumni jurusan seni rupa ISI Yogyakarta 1991 mengikuti pameran bersama ini dengan mengusung tema "Romansa 91". Mereka antara lain Bunga Jeruk Permata Pekerti, Kaji Habib, Amir Hamzah, Nur Wahid, Feintje Likawati, Toto Juharto, Yustoni Volunteero, Didit Sukmara serta dua seniman kontemporer kondang Putu Sutawijaya dan Bob "Sick" Yudhita Agung.

Melihat tema pamerannya, pameran bersama angkatan 91 mahasiswa jurusan seni rupa ISI Yogyakarta sesungguhnya bukan hanya sekedar pengobat rindu karena hampir  belasan tahun tidak bertemu namun isyarat adanya harapan akan kekerabatan dalam mengahati masa lalu.

Hal itu yang ditulis Wahyudin dalam tulisan pameran "Romansa 91" ini. "Dengan menabalkan "Romansa" sebagai tajuk pameran ini, mereka seolah hendak berkata, kali ini kami mencari yang indah, yang mesra, yang cinta diantara bentuk-bentuk warna sebab hidup ada yang bisa diucapkan," lanjut Wahyudin.

Dengan kata lain, menurut Wahyudin kenangan masa lalu yang diam-sendiri, cerita dan peristiwa yang diam-bekum sosok dan pokok yang hampir tak menghampiri, dibangkitkan-dicairkan-didekatkan oleh imajinasi dalam pekerjaan tanpa beban (merdeka).

Dalam bahasa teknis, seniman angkatan 91 ini pada dasarnya sedang mempertontonkan kepada publik tentang bagaimana memahami (mode of comprehension) seni rupa yaitu sarana percobaan perupa menerjemahkan kenangan dalam bahasa seni rupa sesuai kehendak memahami dengan kadar interpretasi masing-masing.

Selain itu mereka juga sedang memberi tahu tentang  cara menghubungkan (mode of communication) yaitu sarana perupa menyampaikan pikirain, perasaan dan tanggapannya tentang romansa. "Selain itu dengan pameran "Romansa 91" ini dihadirkan pula cara penciptaan (mode of creation)  atau sarana penciptaan kembali romansa dalam seni rupa sesuai imajinasi perupanya," jelas Wahyudin.

Bagi seniman angkatan 91 ini, jelas lebih dari sekedar kebahagiaan dan kebanggaan hingga akhirnya setelah belasan tahun bisa bertemu dan berpameran bareng. Tapi sebenarnya ada banyak hal yang bisa diraih dari event seni rupa ini.

Putu Sutawijaya misalnya, pameran "Romansa 91" ini hadir sebagai awalan saja yang kemudian bisa menjadi bahan untuk survive di masa depan dalam bentuk pembuatan event seni rupa berikut-berikutnya. Putu sangat yakin pameran ini akan memicu teman-temannya bekerja lebih keras dalam menciptakan karya seni yang bagus.

"Romansa adalah hal romantis, tapi ada hal yang lebih dari sekedar itu. Romansa itu gimana bisa survive ke depan. Ini yang membuat saya yakin ini akan memicu teman-teman lebih bekerja keras. Teman-teman berkeyakinan berikutnya yakin ada (event seni rupa)," kata Putu.

Pemilik Sangkring Art Space ini menambahkan saat ini angkatan 91 baru memulai, mengawali. "Dari sini kita lihat gimana mengatur strategi di masa depan," jelas Putu.

Senada juga disampaikan Bob "Sick" Yudhita Agung yang mengatakan kegembiraan dan rasa senangnya bisa berpameran bersama-sama kawan-kawan seangkatannya yang sekarang hidup berpisah di banyak daerah.

"Aku seneng karena walaupun jaraknya jauh tapi di moment sekarang bisa ketemu. Terakhir bertemu saat pameran di Ganesha Gallery Malioboro tahun 1991. Momennya pas, karena masih hidup semua," jelas Bob seraya tertawa.

Dalam catatan pamerannya lagi, Wahyudin melihat beberapa hal penting dalam konteks keseni rupaan dari pameran bersama ini. Pertama, karya seni rupa ada secara fisik sebagai sebuah obyek, yang dapat direspon langsung secara taktil, visual dan retinal.

Dalam karya-karya yang dipamerkan ini juga dimunculkan statement-statemen historik yang dibuat pada masa tertentu, dan merepresentasikan pandangan perupa akan kedudukan seni rupa pada masa tertentu pula.

"Demikian pula karya seni rupa merepresentasikan bentuk pemikiran yang secara tidak langsung merefleksikan pandangan-dunia, persoalan waktu, transmisi filosofis serta pengalaman spiritual," terang Wahyudin.

Seperti keyakinan yang dimiliki Putu Sutawijaya diatas, maka mengutif kata-kata Yan Martel dalam novelnya Life of Pi (2002), kalau kita, para warga negara tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita pada altar kejam hingga pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun,bahkan terhadap mimpi kita sekalipun.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini