Mendengar namanya mungkin agak asing dan janggal. Memang, wayang mikael adalah wayang baru hasil kreasi seniman dalam Kaji Habib. Terbuat dari bahan mika, wayang ini terlihat lebih mentereng dari jika dibandingkan dengan wayang kulit.Ada visual yang cukup menarik ketika wayang mikael dimainkan oleh dalang Kaji Habib, Minggu (7/3) lalu di beranda Sangkring Art Space. Bukan dari figur yang karikatural yang menggemaskan dan tatah sungging yang inovatif saja, tapi seluruh figur wayang yang terbuat dari mika itu bisa secara maksimal memancarkan warna-warna dari tubuhnya, ketika dimainkan dari balik geber.
Sifat mika yang bisa memancarkan warna dipermukaannya ketika tertimpa tersorot cahaya, menjadikan pertunjukan wayang mikael menjadi pertunjukan wayang yang berwarna. Sebuah kesegaran visual hadir ketika wayang kulit klasik menonjolkan ornamen artistik dengan warna hitam putih saja.
Keunggulan visual itu mungkin wajar mengingat Kaji Habib (40), dalang sekaligus kreator wayang mikael adalah seorang perupa juga. Pria yang mulai menuntut ilmu seni lukis di ISI Yogyakarta pada tahun 1991 itu sengaja membuat semua disiplin seni.
Menurut pengakuan Kaji Habib wayang mikael juga sering meramaikan visual dengan peranti multimedia. Ia juga pernah berkolaborasi dengan kelompok hadrah, gamelan, sampai kelompok band.
Meski namanya terdengar agak janggal, wayang mikael ternyata berasal dari kata yang cukup sederhana. "Mikael itu akronim dari mika karena wayang saya terbuat dari mika dan el adalah eling. Artinya wayang dari mika yang menggingatkan perilaku hidup manusia," kata pria berambut ikal itu.
Secara umum wayang mikael adalah titik temu dari proses Kaji Habib selama ini. Pria yang dilahirkan dari keluarga santri di Mranggen, Demak ini selain kuliah di ISI Yogyakarta juga menjadi mahasiswa Jurusan Kaidah IAIN Sunan Kalijaga.
Secara singkat Kaji Habib ingin membuat kreasi visual dari ilmu seni rupa, sekaligus ingin memberikan pengingat manusia melalui muatan tema wayang mikael. Keterampilannya membawakan karakter tokoh yang berbeda-beda sebagai bekal dalang, pun dimilikinya karena saat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Kaji Habib pun aktif di Teater Eska.
"Manusia itu diciptakan sebagai khalifatullah atau pemimpin di dunia, pada saat bersamaan ia juga seorang abdullah atau hamba Tuhan. Maka mereka harus bisa memanfaatkan dengan baik semua yang diberikan Tuhan, bukan malah merusaknya," tutur Kaji Habib yang tampaknya fasih menerjemahkan kosakata Arab itu.
Malam itu wayang mikael yang menampilkan lakon "Mangsa Rumangsa" tampaknya sejalan dengan alasan-alasan yang dikemukakan Kaji Habib. Cerita dengan durasi sekitar 1 jam itu mencoba mengingatkan manusia dengan cara-cara yang tidak menggurui.
Melalui tokoh utama seperti Bagus Salikh, Kyai Jarkoni (Iso Ngajar ora iso nglakoni) dan Raja Angkara, wayang mikael ingin mengungkapkan bahwa zaman ini banyak orang yang gede rumangsa. Kondisi ini mengakibatkan manusia kian egois serta merasa lebih baik, dan menganggap remeh orang di sekitarnya.
"Efeknya kehidupan ini jadi tidak harmonis, karena lahir kecurigaan yang berujung pada chaos seperti watak yang digambarkan oleh Raja Angkara Murka," tegas Kaji Habib tentang wayang yang dimainkan sejak 2008 itu.
Meski ada filosofi yang cukup berat, wayang mikael pertunjukan yang santai, guyonan, bahkan terkadang agak urakan itu membuat penonton tidak berkerut kening. Kaji Habib tidak hanya memainkan wayang dari balik geber tetapi juga melucu di depan geber. Celetukan dari para pemusik blues yang mengiringi wayang mikael itu membantu Kaji Habib mengembangkan guyonan-guyonannya.



Kirim Komentar