
Saat ini, privatisasi pengelolaan air dan komersialisasi air dinilai telah sangat memprihatinkan. Selain menimbulkan konflik, permasalahan pengelolaan air juga tak lepas dari kualitas air yang ternyata sangat rendah dari standar.
Isu tersebut dikemukakan oleh gabungan aktivis lingkungan yang terdiri dari Walhi Yogyakarta, Setam, Kruha Jateng-DIY, WKO, Idea, HMI MPO, JPY, Shalink, yang melakukan aksi turun ke jalan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang peringati pada hari ini, Senin (22/3).
Dalam aksi yang diawali dari Lapangan Parkir Abu Bakar Ali, massa yang berjumlah ratusan tersebut berjalan menuju Perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta dengan meneriakkan isu kerusakan lingkungan khususnya air yang saat ini sedang dan masih saja terjadi.
"Air adalah hak asasi manusia. Setiap orang berhak mendapatkan air bersih. Itu sudah diatur dalam undang-undang. Jadi kalau sampai masyarakat tidak bisa memperoleh air bersih, negara harus bertanggungjawab," kata koordinator aksi Fathur Roziqin Fen.
Untuk itu, Fathur menegaskan kepada masyarakat untuk tidak lagi membeli air karena sejatinya air adalah hak yang harus diberikan oleh negara kepada rakyat dengan gratis.
Pada kesempatan tersebut pula, massa juga menuntut pemerintah untuk memberikan keadilan terkait dengan pemgelolaan sumber daya air yang ada. Serta meninjau kembali pemberian ijin dan pengawasan terhadap depot pengisian air isi ulang.
"Kami menolak adanya intervensi asing yang telah mengakibatkan konflik dalam pengelolaan air. Dan yang paling penting adalah kami juga menolak privatisasi dan komersialisme air," tandasnya.



Kirim Komentar