Tahukah Anda pembunuh nomor satu di dunia saat ini? Jawabannya bukanlah singa padang pasir ataupun bom atom, melainkan penyakit jantung koroner (PJK).
Penyakit jantung koroner terjadi apabila pembuluh darah koroner yang mensuplai darah ke otot jantung tersumbat. Sehingga penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah tersebut akan mengganggu kerja jantung yang dapat mengakibatkan serangan jantung.
"Saat ini, pembunuh nomor satu di dunia adalah penyakit jantung koroner, disusul dengan penyakit diare, kanker, dan TBC," kata Dr. Hariadi Hariawan, SpPD, SpJP(K), Staf Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UGM dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dalam Orasi Ilmiah Penataan Jantung sebagai puncak Milad ke-3 Jogja Internasional Hospital (JIH) di Auditorium JIH Yogyakarta, Rabu (31/3).
Dr. Hariadi menegaskan, penyakit jantung koroner bisa diketahui dengan gejala awal yakni rasa sakit yang terjadi pada dada sebelah kiri, lalu disertai dengan sesak nafas. Dari keluhan tersebut baru kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai serangan yang dialami penderita.
"Jika yang terjadi adalah penyumbatan sebagian, penderita hanya akan mengalami angina pektoris. Sedangkan kalau penyumbatannya total, yang terjadi adalah serangan jantung," ujarnya.
Lebih lanjut Dr. Hariadi menyatakan bahwa faktor risiko yang tak dapat dirubah yakni penyakit jantung koroner karena riwayat keluarga serta faktor usia yang semakin tua semakin berisiko. Selain itu, tentunya juga dikarenakan faktor lain yang cenderung merupakan gaya hidup tidak sehat yang seharusnya bisa dirubah.
"Faktor risiko penyebab penyakit jantung yang bsa dirubah adalah hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, alkoholik, dan phisical inactivity atau tubuh yang kurang aktivitas dan gerak," tegasnya.
Untuk itu Dr. Hariadi mengimbau masyarakat yang tidak ingin terkena serangan jantung koroner untuk menghindari pola dan kebiasaan buruk yang membahayakan tubuh, dan beralih saat ini juga untuk melakukan hal positif yang berguna bagi kesehatan.
"Jangan lagi merokok, kurangi berat badan, jangan makan berlebihan, olahraga teratur, istirahat cukup, kontrol kolesterol, tekanan, dan gula darah, dan mengontrol kesehatan secara rutin," imbaunya.
Selain itu, Dr. Hariadi juga menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi lemak tidak jenuh yang baik bagi tubuh, yang bisa diperoleh dari omega-3 yang bisa menurunkan triglserida dan tekanan darah. Zat tersebut terdapat di dalam ikan salmon, tuna, dan herring serta bisa diperoleh dari sejumlah produk suplement.
Dari penelitian yang dilakukan oleh SKRT, Departemen Kesehatan RI, penyakit jantung koroner setidaknya membunuh sekitar 15 juta orang dalam waktu satu tahun. Data tersebut juga menyatakan bahwa penderita penyakit jantung koroner cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Penyakit jantung koroner terjadi apabila pembuluh darah koroner yang mensuplai darah ke otot jantung tersumbat. Sehingga penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah tersebut akan mengganggu kerja jantung yang dapat mengakibatkan serangan jantung.
"Saat ini, pembunuh nomor satu di dunia adalah penyakit jantung koroner, disusul dengan penyakit diare, kanker, dan TBC," kata Dr. Hariadi Hariawan, SpPD, SpJP(K), Staf Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UGM dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dalam Orasi Ilmiah Penataan Jantung sebagai puncak Milad ke-3 Jogja Internasional Hospital (JIH) di Auditorium JIH Yogyakarta, Rabu (31/3).
Dr. Hariadi menegaskan, penyakit jantung koroner bisa diketahui dengan gejala awal yakni rasa sakit yang terjadi pada dada sebelah kiri, lalu disertai dengan sesak nafas. Dari keluhan tersebut baru kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai serangan yang dialami penderita.
"Jika yang terjadi adalah penyumbatan sebagian, penderita hanya akan mengalami angina pektoris. Sedangkan kalau penyumbatannya total, yang terjadi adalah serangan jantung," ujarnya.
Lebih lanjut Dr. Hariadi menyatakan bahwa faktor risiko yang tak dapat dirubah yakni penyakit jantung koroner karena riwayat keluarga serta faktor usia yang semakin tua semakin berisiko. Selain itu, tentunya juga dikarenakan faktor lain yang cenderung merupakan gaya hidup tidak sehat yang seharusnya bisa dirubah.
"Faktor risiko penyebab penyakit jantung yang bsa dirubah adalah hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, alkoholik, dan phisical inactivity atau tubuh yang kurang aktivitas dan gerak," tegasnya.
Untuk itu Dr. Hariadi mengimbau masyarakat yang tidak ingin terkena serangan jantung koroner untuk menghindari pola dan kebiasaan buruk yang membahayakan tubuh, dan beralih saat ini juga untuk melakukan hal positif yang berguna bagi kesehatan.
"Jangan lagi merokok, kurangi berat badan, jangan makan berlebihan, olahraga teratur, istirahat cukup, kontrol kolesterol, tekanan, dan gula darah, dan mengontrol kesehatan secara rutin," imbaunya.
Selain itu, Dr. Hariadi juga menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi lemak tidak jenuh yang baik bagi tubuh, yang bisa diperoleh dari omega-3 yang bisa menurunkan triglserida dan tekanan darah. Zat tersebut terdapat di dalam ikan salmon, tuna, dan herring serta bisa diperoleh dari sejumlah produk suplement.
Dari penelitian yang dilakukan oleh SKRT, Departemen Kesehatan RI, penyakit jantung koroner setidaknya membunuh sekitar 15 juta orang dalam waktu satu tahun. Data tersebut juga menyatakan bahwa penderita penyakit jantung koroner cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.



Kirim Komentar