Bagi sebagian warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wirogunan, keterbatasan mereka dalam kurungan tak serta merta membatasi ruang gerak mereka untuk berkreativitas dan berekspresi serta berkarya.
Hal tersebut terbukti ketika terpilih empat orang penulis dari LP Wirogunan dari 50 peserta yang turut dalam lomba Penulisan Inspiring Writing yang digelar oleh Galangpress bekerjasama dengan organisasi Rumah Terampil.
Keempat peserta tersebut mencurahkan segala yang ada dalam pikiran dan perasaannya khususnya ketika menghabiskan waktu mereka di dalam terali besi dalam sebuah tulisan.
Manajer Litbang Galangpress, AA Kuntho menyatakan kegiatan ini bertema Katak Menembus Tempurung yang berarti warga binaan lapas juga bisa berkreasi dan berprestasi selama ini selalu terjadi salah sangka atas keberadaan warga binaan lapas.
Menurutnya, lomba ini adalah kelanjutan dari kerjasama antara Galangpress dan Rumah Terampil yang melaksanakan workshop penulisan selama enam bulan di tahun 2009.
"Padahal mungkin saja warga di luar lapas itu yang selalu berada di dalam tempurung. Intinya orang yaang hidup dalam keterbatasan ruang gerak justru bisa bebas mengekspresikan dirinya tidak seperti orang yang memiliki kebebasan utuh tetapi terjebak dalam lingkup keterbatasan yang dibuatnya sendiri," ujarnyasaat ditemui di Lapas Wirogunan, Selasa (4/5).
Pada kesempatan tersebut, Siantika berjudul "Lebih dari Pemenang" dengan nilai total 28 yang menjadi peringkat 1, Dinar Nur H berjudul "Gita Cinta dari Penjara" skornya 26 mendapat peringkat 2, Winardi berjudul "Aku dan Kakakku" dengan total nilai 25 menduduki peringkat 3 dan Paskalis Benyamin dengan judul "Harapan Fana" mendapat nilai 25 menjadi juara favorit.
"Kriteria penilaian dilihat dari isi yang berupa orisinalitas yang menggugah, keberanian, mengubah, sesuai tema dengan skor 1-15, Bahasa yang jelas, runtut, deskriptif dan detail serta humanis dengan skor 1-3," terangnya.
Kuntho mengatakan Siantika dinyatakan sebagai pemenang karena telah membuat naskah yang detail, kronologis di mana setiap cerita selalu menggugah dan inspiratif.
"Dinar mempunyai ide sederhana dekat dengan keseharian, menarik, centil, inspiratif dan menggelitik. Winardi dengan bahasanya mengalir, inspiratif, penggunaan diksi bagus dan menyentuh Sedangkan Paskalis mempunyai cerita unik, inspiratif lucu dan menarik," tuturnya.
Siantika, yang sudah menghuni Lapas Wirogunan sejak tahun 2007 lalu hingga 2014 mendatang mengatakan naskahnya berasal dari kisah nyata dirinya saat dipindahkan dari LP Cirebon ke LP Wirogunan.
"Tulisan ini berisi ketakutan-ketakutan, kekhawatiran yang menyinggapi saya selama dalam perjalanan," katanya.
Siantika mengatakan tuliannya berjumlah 10 lembar dan ditulis dalam waktu satu minggu. "Saya menulis pada waktu malam hari kira-kira jam 21.00 WIB ketika suasana hening supaya lebih berkonsentrasi," ujarnya.
Tentang karya Siantika ini, Kunto mengatakan isinya sederhana, penuh motivasi, menyentuh dan memberi harapan. Sedangkan naskah-naskah favorit juri yang lain adalah Rantai Biru Sekuntum Mawar yang ditulis Fajar Ridawan, Tak Teraih Waktu oleh Frison Suryono, Tersungkurnya Sang Pembunah karangan Agus Tamam dan Perjalanan Kembali ke Rumah yang ditulis Tuti Andrasih.
Para pemenang mendapatkan piala dan bingkisan buku dari Galang Press yang rencana karya-karya mereka nantinya akan dijadikan dalam bentuk buku yang bisa dijual ke seluruh Indonesia.
Hal tersebut terbukti ketika terpilih empat orang penulis dari LP Wirogunan dari 50 peserta yang turut dalam lomba Penulisan Inspiring Writing yang digelar oleh Galangpress bekerjasama dengan organisasi Rumah Terampil.
Keempat peserta tersebut mencurahkan segala yang ada dalam pikiran dan perasaannya khususnya ketika menghabiskan waktu mereka di dalam terali besi dalam sebuah tulisan.
Manajer Litbang Galangpress, AA Kuntho menyatakan kegiatan ini bertema Katak Menembus Tempurung yang berarti warga binaan lapas juga bisa berkreasi dan berprestasi selama ini selalu terjadi salah sangka atas keberadaan warga binaan lapas.
Menurutnya, lomba ini adalah kelanjutan dari kerjasama antara Galangpress dan Rumah Terampil yang melaksanakan workshop penulisan selama enam bulan di tahun 2009.
"Padahal mungkin saja warga di luar lapas itu yang selalu berada di dalam tempurung. Intinya orang yaang hidup dalam keterbatasan ruang gerak justru bisa bebas mengekspresikan dirinya tidak seperti orang yang memiliki kebebasan utuh tetapi terjebak dalam lingkup keterbatasan yang dibuatnya sendiri," ujarnyasaat ditemui di Lapas Wirogunan, Selasa (4/5).
Pada kesempatan tersebut, Siantika berjudul "Lebih dari Pemenang" dengan nilai total 28 yang menjadi peringkat 1, Dinar Nur H berjudul "Gita Cinta dari Penjara" skornya 26 mendapat peringkat 2, Winardi berjudul "Aku dan Kakakku" dengan total nilai 25 menduduki peringkat 3 dan Paskalis Benyamin dengan judul "Harapan Fana" mendapat nilai 25 menjadi juara favorit.
"Kriteria penilaian dilihat dari isi yang berupa orisinalitas yang menggugah, keberanian, mengubah, sesuai tema dengan skor 1-15, Bahasa yang jelas, runtut, deskriptif dan detail serta humanis dengan skor 1-3," terangnya.
Kuntho mengatakan Siantika dinyatakan sebagai pemenang karena telah membuat naskah yang detail, kronologis di mana setiap cerita selalu menggugah dan inspiratif.
"Dinar mempunyai ide sederhana dekat dengan keseharian, menarik, centil, inspiratif dan menggelitik. Winardi dengan bahasanya mengalir, inspiratif, penggunaan diksi bagus dan menyentuh Sedangkan Paskalis mempunyai cerita unik, inspiratif lucu dan menarik," tuturnya.
Siantika, yang sudah menghuni Lapas Wirogunan sejak tahun 2007 lalu hingga 2014 mendatang mengatakan naskahnya berasal dari kisah nyata dirinya saat dipindahkan dari LP Cirebon ke LP Wirogunan.
"Tulisan ini berisi ketakutan-ketakutan, kekhawatiran yang menyinggapi saya selama dalam perjalanan," katanya.
Siantika mengatakan tuliannya berjumlah 10 lembar dan ditulis dalam waktu satu minggu. "Saya menulis pada waktu malam hari kira-kira jam 21.00 WIB ketika suasana hening supaya lebih berkonsentrasi," ujarnya.
Tentang karya Siantika ini, Kunto mengatakan isinya sederhana, penuh motivasi, menyentuh dan memberi harapan. Sedangkan naskah-naskah favorit juri yang lain adalah Rantai Biru Sekuntum Mawar yang ditulis Fajar Ridawan, Tak Teraih Waktu oleh Frison Suryono, Tersungkurnya Sang Pembunah karangan Agus Tamam dan Perjalanan Kembali ke Rumah yang ditulis Tuti Andrasih.
Para pemenang mendapatkan piala dan bingkisan buku dari Galang Press yang rencana karya-karya mereka nantinya akan dijadikan dalam bentuk buku yang bisa dijual ke seluruh Indonesia.



Kirim Komentar