
Alam raya bisa dijadikan obyek yang menghasilkan lukisan mauli dari yang representatif atau apa adanya hingga yang formalis atau sesuai keinginan seniman.
Hal itu dibuktikan dalam Jawabannya bisa disaksikan dalam karya-karya yang diciptakan I Made Supena yang ditampilkan dalam Visual Art Solo Exhibition "Genealogi" di Jogja Gallery dari 28 April-23 Mei 2010 mendatang.
Tema "Genealogi" sepertinya menjadi kata yang tepat untuk mempelajari karya-karya alam raya yang diciptakan Seniman kelahiran Singapadu Bali ini.
Genealogi, diperkenalkan ahli culture study, Focault, sebagai pemahaman sosial yang ada dalam kekuasaan serta kontinuitas historis dan diskontinuitas diskursus (sejarah yang berkelanjutan serta wacana yang terputus-putus).
"Sejarah" melukis alam raya I Made Supena hadir sejak tahun 1990-an hingga saat sekarang. Dalam rentang waktu itu (kontinuitas historis), I Made Supena menghadirkan tiga pemahaman alam yang ia munculkan dalam kanvas (diskontinuitas diskursus).
Penikmat seni rupa bisa menyaksikan pemahaman diatas pada 53 lukisan dan dua patung yang dipamerkan hampir memenuhi dua ruang pamer milik Jogja Gallery.
Kurator pameran, Hardiman menghadirkan pemahaman tentang pijakan keberlangsungan sejarah melukis alam I Made Supena. Pertama, alam dalam wacana tradisionalitas. Ke dua alam dalam konteks teori penciptaan visual secara akademik dan ketiga adalah alam yang diketengahkan secara nir alam (subyek alam menjadi tidak tampak alam lagi)
"Karya-karya awal Supena didorong oleh pilihan bahsa rupa tradisinya lalu masuk ke tema alam pada awal karir, dengan membawa alam ke kanvas dengan pendekatan akademik hingga saripati alam dalam versi rupa pindah ke niralam," jelas Hardiman di Jogja Gallery, Rabu malam (5/5).
Pada lukisan "Sahadewa" lalu "Sketsa Barong I" dan "Sketsa Barong II" misalnya, I Made Supena menghadirkan karya visual alam dengan pijakan tradisionalitas yang kuat. Pijakan tradisionalitas I Made Supena lahir dari lingkungan keluarga seniman di Singapadu Bali.
Bapak I Made Supena adalah I ketut Muja yang selain I Made Supena, ia juga mempunyai anak seniman pematung (I Wayan Jana dan perupa I Ketut Sugantika. Lingkungan ini, begitu peduli terhadap lingkungan kultural sebagai ruh dari kesenian mereka.
Alam yang diciptakan I Made Supena juga ditampilkan secara "akademik" yaitu dengan secara cermat melakukan proses penyaripatian obyek alam ke bidang kanvas. Segala bentuk alam yang terlihat, setelah mengalami saring penyaripatian, dihadirkan melalui perwakilan garis
"Sehingga garis adalah teks yang mewakili pernyataan. Jika Supena harus menggunakan warna, maka warna itu pun hanya hadir pada wilayah paling inti," kata Hardiman. Seri sketsa Batukaru yang dibuat dalam "Sketsa Batukaru #1" dan "Sketsa Batukaru #2" (2000) bisa menjadi wakil dari kondisi penyaripatian alam (liralam) ini.
Karya-karya Alam I Made Supena dalam pemahaman yang niralam dibahasakan Hardiman sebagai karya-karya on the spot. Alam dalam diskursus ini menghadirkan eksplorasi media, teknik serta kemungkinan-kemungkinan aspek artistik yang bisa dimunculkan.
Media campur diatas kertas mewadahi sejumlah eksploarasi dan eksperiman teknik seperti teknik tindih cat basah, teknik tindih cat kering, ragam barik dusel, ragam barik cat berlapis serta cipratan memancar.
Karya lukis seri sketsa Batukaru diatas yang kemudian ditranformasikan dalam karya "Sketsa Ekspresi I" misalnya, adalah contoh hasil eksplorasi dan eksperimen teknik I Made Supena. Warna-warna yang muncul bukan sebagai wakil realitas. Tapi sebagai teks yang bebas dari fungsi perwakilan atas realitas alam.
"Bagi saya, warna pada sketsa ini bukanlah ikon tentang alam, tetapi mendekati sifat indeks tentang kesan alam. Alam sebagai teks dibebaskan dari kewajiban menjelaskan isi karena dibiarkan hadir tanpa membawa makna. Alam pada seri ini salin rupa menjadi niralam," jelas Hardiman.
Karya-karya yang sarat niralam (fenomena tekstual) ini juga muncul pada seri rentetan lukisan diatas kanvas. Dalam beberapa lukisan seperti "Pergeseran Budaya", "Emosi I", "Menggantung Harapan II", "Lidah Berwarna" memperlihatkan bidang horizontal dibelah vertikal menjadi tiga, empat bahkan lebih dari itu.
Sementara itu karya-karya patung kayu I Made Supena menghadirkan nilai-nilai lokal bali yang menempatkan secara kuat paham garis keturunan ayah (patriarki).Karya-karya patung I Made Supena membentuk subyek kepala anak.
Hal tersebut bisa dilihat dalam karya-karya patung "Emosi" berupa kepala anak-anak dari kayu Suwar, Sonokeling dan Kamboja yang hadir di lantai, lalu membentuk semacam titian kemudian diteruskan dalam karya patung kepala anak-anak dalam judul "Menggantung" yang tergantung menjuntai.
Menurut Hardiman, karya-karya patung I Made Supena ini adalah kritik sosial atas praktik-praktik sosial orang tua di Bali yang beberapa tahun ini menelantarkan anak-anaknya. Anak-anak SD di Bali banyak melakukan bunuh diri karena tidak punya seragam, sepatu akibat orang tua yang tidak peduli.
Anehnya, anak-anak SD yang bunuh diri itu adalah laki-laki yang memegang kuat paham Patriarkhi. "Rupanya ini sangat mengganggu Supena maka dari itu lahir patung-patung anak dalam ruang besar yang ditonjolkan kepada persoalan kultur Bali," jelas Hardiman.



Kirim Komentar