Seni & Budaya

Kontemporer, Semua Bisa Jadi Karya Seni?

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Dunia seni rupa kontemporer saat ini memang memungkinkan setiap orang untuk berkarya sesuai dengan keinginannya. Tapi apakah fenomena tersebut serta merta bisa diterima, khususnya oleh orang yang benar-benar memiliki jiwa seni?

Hal tersebut menjadi perbincangan yang hangat dalam Diskusi Seni "Menimbang Ulang Pameran Lukisan Intenasional Sejati, Baik, Sabar: Relevansi Karya Seni dalam Realitas Kehidupan Sosial" di Jogja National Museum, Jumat (7/5).

Kurator Pameran Lukisan Intenasional Sejati, Baik, Sabar, Muhammad Bachtiar menyatakan saat ini perkembangan seni rupa cenderung mengikuti jaman dan pola pikir manusia yang cenderung lebih rasional dan jauh dari spiritual.

"Seni rupa akhir-akhir ini jauh sekali dari seni orthodok, jauh dari sang pencipta. Artinya tak lagi mempertahankan moral dan kepercayaan kepada Tuhan," katanya.

Untuk itu, Bachtiar mengingatkan agar seniman saat ini kembali kepada pemikiran luhur seni rupa orthodok yang lebih mementingkan moral. Dan bukannya malah menilai bahwa karya realis adalah karya yang ketinggalan jaman.

"Lihat saja karya Leonardo Da Vinci pada jaman renaissance. Karyanya bertahan lama dan akan tetap diingat. Sangat berbeda dengan karya kontemporer saat ini yang cenderung tidak berumur panjang dan cepat tenggelam," terangnya sambil mempertanyakan kapan fenomena kontemporer tersebut akan berakhir.

Sementara itu kurator lepas Kuss Indarto, mengutip pernyataan Edmund Burke Feldman dalam mendefinisikan fungsi seni, menyatakan bahwa sesungguhnya seni memiliki tiga fungsi utama yakni fungsi personal, fungsi sosial, dan fungsi fisik.

"Seperti layaknya karya seni abstrak, karya tersebut cenderung lebih kepada seni sebagai fungsi personal, dan biasanya tidak terkait dengan masalah sosial datu lungkungan di luarnya. Meski demikian, seni juga harus bisa berfungsi sosial yang berguna bagi kepentingan masyarakat. Hal tersebut bisa dilihat dari sejumlah karya Eko Prawoto yang sering mengeksplorasi bambu ke dalam karyanya," paparnya.

Tak hanya itu, karya seniman Djoko Pekik "Berburu Celeng" (1998) yang laku Rp 1 miliar, menurutnya juga bisa dikategorikan karya yang mengandung nilai sosial. Betapa tidak, karya tersebut dengan gamblang mampu menggambarkan kondisi sosial dan politik pada waktu itu.

Pada kesempatan yang sama, pengamat sosial dan budaya, Brotoseno mengatakan bahwa seniman seharusnya bisa menjadi motor bagi perubahan dan perkembangan sosial dan politik dalam sebuah negara.

"Pada masa dulu misalnya, seniman bisa berkontribusi bagi revolusi di tanah air. Mereka menggunakan seni sebagai kekuatan untuk perubahan. Seni untuk rakyat," katanya.

Untuk itu Brotoseno menyayangkan sejumlah seniman sat ini yang berkarya tapi tidak cukup berkualitas. "Masa untuk mengerti arti karyanya seseorang harus bertanya kepada senimannya. Harusnya karyanya itu bisa bercerita sendiri meskipun itu berbeda interpretasinya bagi tiap-tiap orang," kritiknya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini