Sebanyak 100 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sektor batik DIY akan segera mendapat giliran pertama pendampingan teknis dalam program penerapan produksi bersih yang dibiayai Eropa Union.
Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Pusat Produksi Bersih Nasional Kementerian Lingkungan Hidup (PPBN KLH) RI, Rismawati dan utusan Badan Kerjasama Ekonomi Indonesia denga Jerman (EKONID) saat menemui Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX di Gedong Pare Anom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (18/5).
Rismawati menyatakan, pihaknya menemui Wagub dalam rangka melaporkan Program Clean Batik Iniciative (CBI) yang akan diselenggarakan di DIY oleh PPBN KLH bekerjasama dengan EKONID.
"Program ini dilaksanakan dengan harapan, kalau selama ini UMKM masih mencemari lingkungan, kita mengharapkan produk-produk mereka ini nanti ramah lingkungan," katanya.
Menurutnya, karena batik sudah diakui UNESCO, jadi penerapan produksi bersih atau eko efisiensi dalam memproduksi batik harus dilakukan oleh setiap UMKM.
Nantinya, sekitar 100 UMKM sektor batik di DIY akan mendapatkan pendampingan teknis dan fasilitasi dalam proses produksi batik yang ramah lingkungan, serta teknik pemasaran di tingkat global.
Program akan dilaksanakan dalam waktu empat tahun sejak 2010–2013 mendatang di enam propinsi yaitu Propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
"Sebenarnya program ini selama 4 tahun, tetapi pada tahun ini kita fokuskan di DIY dulu. Nanti di samping produk mereka ramah lingkungan mereka juga akan melakukan penghematan sumber energi sekaligus keuntungan mereka itu akan bertambah," tandasnya.
Ketika nanti program ini nanti selesai, Rismawatim mengharapkan agar program ini akan terus dilanjutkan oleh UMKM yang bersangkutan, sebab bagi mereka yang terus menerapkan program produksi bersih akan dibantu pemasaran produknya oleh pihak EKONID.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Paku Alam IX mengatakan, sebagai orang lingkungan ia sangat mendukung program penerapan produksi bersih di DIY ini, terlebih program tersebut ditujukan bagi UMKM sektor batik.
"Dengan program ini UMKM akan mendapatkan pendampingan teknis bagaimana meninggikan mutu produk, bagaimana cara menghemat air, menghemat bahan kimia, sehingga produk-produknya ramah terhadap lingkungan sekitarnya.
Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Pusat Produksi Bersih Nasional Kementerian Lingkungan Hidup (PPBN KLH) RI, Rismawati dan utusan Badan Kerjasama Ekonomi Indonesia denga Jerman (EKONID) saat menemui Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX di Gedong Pare Anom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (18/5).
Rismawati menyatakan, pihaknya menemui Wagub dalam rangka melaporkan Program Clean Batik Iniciative (CBI) yang akan diselenggarakan di DIY oleh PPBN KLH bekerjasama dengan EKONID.
"Program ini dilaksanakan dengan harapan, kalau selama ini UMKM masih mencemari lingkungan, kita mengharapkan produk-produk mereka ini nanti ramah lingkungan," katanya.
Menurutnya, karena batik sudah diakui UNESCO, jadi penerapan produksi bersih atau eko efisiensi dalam memproduksi batik harus dilakukan oleh setiap UMKM.
Nantinya, sekitar 100 UMKM sektor batik di DIY akan mendapatkan pendampingan teknis dan fasilitasi dalam proses produksi batik yang ramah lingkungan, serta teknik pemasaran di tingkat global.
Program akan dilaksanakan dalam waktu empat tahun sejak 2010–2013 mendatang di enam propinsi yaitu Propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
"Sebenarnya program ini selama 4 tahun, tetapi pada tahun ini kita fokuskan di DIY dulu. Nanti di samping produk mereka ramah lingkungan mereka juga akan melakukan penghematan sumber energi sekaligus keuntungan mereka itu akan bertambah," tandasnya.
Ketika nanti program ini nanti selesai, Rismawatim mengharapkan agar program ini akan terus dilanjutkan oleh UMKM yang bersangkutan, sebab bagi mereka yang terus menerapkan program produksi bersih akan dibantu pemasaran produknya oleh pihak EKONID.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Paku Alam IX mengatakan, sebagai orang lingkungan ia sangat mendukung program penerapan produksi bersih di DIY ini, terlebih program tersebut ditujukan bagi UMKM sektor batik.
"Dengan program ini UMKM akan mendapatkan pendampingan teknis bagaimana meninggikan mutu produk, bagaimana cara menghemat air, menghemat bahan kimia, sehingga produk-produknya ramah terhadap lingkungan sekitarnya.



Kirim Komentar