Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam membangun perkebunan kelapa sawit adalah pembangunan yang harus ramah terhadap lingkungan.
Terlebih hal tersebut, kini menjadi salah satu pembicaraan yang hangat yakni industri kelapa sawit menjadi salah satu perusahaan yang dituding sebagai perusak lingkungan.
Namun, PT Bima Palma Group menegaskan diri untuk menerapkan pembangunan industri kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan dilaksanakan secara konsekwen.
Hal tersebut dinyatakan oleh CEO PT Bima Palma Group, Johny G Plate dalam International Oil Palm Conference (IOPC) atau Konferensi Internasional Kelapa Sawit di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Selasa (1/6).
"Kami konsisten dalam menerapkan industri kelapa sawit yang ramah terhadap lingkungan dari pemilihan lahan hingga pengelolaan porduksinya," ujarnya.
Selain itu, tambahnya, perusahaannya yang telah memiliki cadangan lahan mencapai 100 ribu Ha, sekitar 30 ribu lahannya telah bersertifikat HGU atau Hak Guna Usaha resmi. "Sisanya masih dalam tahap dokumentasi legalitas lahan," paparnya.
Lahan yang dikembangkan oleh PT Bima Palma Grup seluruhnya berlokasi di Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK). Jadi kawasan tersebut memang kawasan yang diperuntukkan bagi budidaya perkebunan khususnya kelapa sawit.
Sebelum pembukaan lahan atau land clearing, seluruh areal terlebih dulu diverifikasi dan disurvei kondisi lahannya oleh tim dari IPB Bogor. Setelah itu, perusahaan baru menganalisa mengenai dampak lingkungan (amdal) dengan menerapkan metode zero burning system atas pembukaan lahan bagi seluruh areal perijinan.
Saat ini, untuk mengolah produksi tandan buah segar (TBS), PT Bima Palma Group yang menunjuk PT Boma Bisma Indra sebagai kontraktor pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) setidaknya telah mengasilkan 30 ton TBS per jam ekstensi 60 ton TBS per jam di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.
Terlebih hal tersebut, kini menjadi salah satu pembicaraan yang hangat yakni industri kelapa sawit menjadi salah satu perusahaan yang dituding sebagai perusak lingkungan.
Namun, PT Bima Palma Group menegaskan diri untuk menerapkan pembangunan industri kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan dilaksanakan secara konsekwen.
Hal tersebut dinyatakan oleh CEO PT Bima Palma Group, Johny G Plate dalam International Oil Palm Conference (IOPC) atau Konferensi Internasional Kelapa Sawit di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Selasa (1/6).
"Kami konsisten dalam menerapkan industri kelapa sawit yang ramah terhadap lingkungan dari pemilihan lahan hingga pengelolaan porduksinya," ujarnya.
Selain itu, tambahnya, perusahaannya yang telah memiliki cadangan lahan mencapai 100 ribu Ha, sekitar 30 ribu lahannya telah bersertifikat HGU atau Hak Guna Usaha resmi. "Sisanya masih dalam tahap dokumentasi legalitas lahan," paparnya.
Lahan yang dikembangkan oleh PT Bima Palma Grup seluruhnya berlokasi di Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK). Jadi kawasan tersebut memang kawasan yang diperuntukkan bagi budidaya perkebunan khususnya kelapa sawit.
Sebelum pembukaan lahan atau land clearing, seluruh areal terlebih dulu diverifikasi dan disurvei kondisi lahannya oleh tim dari IPB Bogor. Setelah itu, perusahaan baru menganalisa mengenai dampak lingkungan (amdal) dengan menerapkan metode zero burning system atas pembukaan lahan bagi seluruh areal perijinan.
Saat ini, untuk mengolah produksi tandan buah segar (TBS), PT Bima Palma Group yang menunjuk PT Boma Bisma Indra sebagai kontraktor pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) setidaknya telah mengasilkan 30 ton TBS per jam ekstensi 60 ton TBS per jam di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.



Kirim Komentar