Komunitas Kethoprak Kawula Jogja berencana akan menggelar pementasan kethoprak konvesional perdananya pada Rabu (28/7) mendatang di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Menurut Ketua Kethoprak Kawula Jogja, Enie Sumadi, komunitasnya yang terbentuk belum lama ini akan menggelar pementasan karena merasa prihatin dengan keadaan kethoprak sekarang yang menurutnya sudah salah kaprah.
"Selain ingin meramaikan dunia kethoprak, kami prihatin dengan kethoprak yang sekarang ini sudah kehilangan pakemnya. Yang ada, saat ini kethoprak lebih banyak humornya tanpa memperhatikan pakem kethoprak Jawa yang sejati," tuturnya di nDalem Dipopernatan Yogyakarta, Selasa (20/7).
Meski demikian, Enie tidak keberatan jika kethoprak memang harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada saat ini. "Tapi yang paling penting adalah pakem itu harus tetap dipegang," tegasnya.
Pada pementasan dengan lakon "Wangsit" nanti, Kethoprak Kawula Jogja, selain akan menampilkan sekitar 25 pemain kethoprak lawasnya, rencananya juga akan menggandeng sejumlah seniman muda berbakat Jogja.
"Lakon yang dipilih juga menyesuaikan dengan pemain lain yang masih muda, yag mungkin bahkan baru pertama kali main seperti Dimas Tejo Blangkon," ujarnya sambil menyatakan bahwa meski aslinya seorang penyanyi campursari, Dimas Tejo dinilai akan mampu bermain kethoprak konvensional.
Sementara itu, pemerhati kethoprak, yang pada kesempatan ini sebagai pembina Kethoprak Kawula Jogja, Widayat mengatakan, pementasan kethoprak konvensional ini merupakan realiasasi dari sarasehan kethoprak oleh Yogya Semesta yang digelar pada 11 Mei lalu.
"Dalam sarasehan tersebut diputuskan bahwa kethoprak konvensional harus direvitalisasi karena keberadaannya yang semakin terpuruk," katanya.
Keterpurukan kethoprak konvensional, atau bahkan kematisuriannya, menurut Widayat disebabkan tak adanya media yang mampu mewadahi keberlangsungan hidup kethoprak konvensional tersebut.
"Dulu masih ada kethoprak tobong dan kethoprak RRI, tapi seiring tergusurnya dua wadah tersebut, terpuruk pulalah nasib kethoprak konvensional seperti sekarang ini," terangnya.
Menurut Ketua Kethoprak Kawula Jogja, Enie Sumadi, komunitasnya yang terbentuk belum lama ini akan menggelar pementasan karena merasa prihatin dengan keadaan kethoprak sekarang yang menurutnya sudah salah kaprah.
"Selain ingin meramaikan dunia kethoprak, kami prihatin dengan kethoprak yang sekarang ini sudah kehilangan pakemnya. Yang ada, saat ini kethoprak lebih banyak humornya tanpa memperhatikan pakem kethoprak Jawa yang sejati," tuturnya di nDalem Dipopernatan Yogyakarta, Selasa (20/7).
Meski demikian, Enie tidak keberatan jika kethoprak memang harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada saat ini. "Tapi yang paling penting adalah pakem itu harus tetap dipegang," tegasnya.
Pada pementasan dengan lakon "Wangsit" nanti, Kethoprak Kawula Jogja, selain akan menampilkan sekitar 25 pemain kethoprak lawasnya, rencananya juga akan menggandeng sejumlah seniman muda berbakat Jogja.
"Lakon yang dipilih juga menyesuaikan dengan pemain lain yang masih muda, yag mungkin bahkan baru pertama kali main seperti Dimas Tejo Blangkon," ujarnya sambil menyatakan bahwa meski aslinya seorang penyanyi campursari, Dimas Tejo dinilai akan mampu bermain kethoprak konvensional.
Sementara itu, pemerhati kethoprak, yang pada kesempatan ini sebagai pembina Kethoprak Kawula Jogja, Widayat mengatakan, pementasan kethoprak konvensional ini merupakan realiasasi dari sarasehan kethoprak oleh Yogya Semesta yang digelar pada 11 Mei lalu.
"Dalam sarasehan tersebut diputuskan bahwa kethoprak konvensional harus direvitalisasi karena keberadaannya yang semakin terpuruk," katanya.
Keterpurukan kethoprak konvensional, atau bahkan kematisuriannya, menurut Widayat disebabkan tak adanya media yang mampu mewadahi keberlangsungan hidup kethoprak konvensional tersebut.
"Dulu masih ada kethoprak tobong dan kethoprak RRI, tapi seiring tergusurnya dua wadah tersebut, terpuruk pulalah nasib kethoprak konvensional seperti sekarang ini," terangnya.



Kirim Komentar