Seni & Budaya

Kethoprak Konvensional Mati Suri

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Saat ini, kethoprak konvensional sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk. Dengan kata lain, seni tradisi Jawa ini sedang berada dalam tidur panjangnya atau dalam keadaan mati suri.

Keterpurukan kethoprak konvensional tersebut, menurut Widayat disebabkan tidak adanya media yang mampu mewadahi keberlangsungan hidup kethoprak konvensional.

"Dulu masih ada kethoprak tobong dan kethoprak RRI, tapi seiring tergusurnya dua wadah tersebut, terpuruk pulalah nasib kethoprak konvensional seperti sekarang ini," terangnya.

Selain faktor eksternal yang mematikan keberlangsungan kethoprak konvensional tersebut, Widayat juga menyatakan bahwa faktor internal turut mempercepat mati surinya salah satu seni tradisi Jawa tersebut mulai awal tahun 1990-an.

"Di samping itu, rasa individualistik yang dimiliki oleh pemain kethoprak konvensional juga melandasi terpuruknya seni yang oleh beberapa kalangan disebut sebagai opera Jawa tersebut," tuturnya.

Bagaimana tidak, dulu jika seorang telah memiliki sebuah kelompok dan muali dikenal oleh publik, maka mereka akan cenderung menutup diri. "Seseorang akan mempertahankan diri untuk menjalankan kothoprak tersebut, dan tidak boleh dipegang oleh orang lain," tambahnya.

Tak hanya itu saja, proses regenerasi pemain juga menghambat kelangsungan hidup kethoprak konvensional khususnya di tengah moderenitas saat ini. Ternyata tak mudah mencari sejumlah peran yang biasa dimainkan oleh pemain kethoprak konvensioal.

"Masalah yang juga paling sering dihadapi adalah masalah casting, yakni tidak cocoknya lagi pemain untuk peran tertentu, misalnya peran Damarwulan yang diperankan oleh pemain yang sudah tua, dll," tandasnya seraya mengaku bahwa saat ini susah mencari pemain kethoprak yang juga bisa nembang Jawa.

Mengenai kethoprak konvensional, Widayat mengungkapkan bahwa kesenian kethoprak saat ini terbagi menjadi tiga jenis yakni kethoprak humor, kethoprak garapan, dan kethoprak konvensional.

"Kethoprak humor itu dikenalkan oleh Kelompok Samiaji yang dipimpin oleh Timbul, sementara kethoprak garapan itu digelar sewaktu ada festival atau acara sejenis, sedangkan kethoprak konvensional adalah pertunjukan teater rakyat Jawa yang memiliki roh," paparnya.

Roh yang dimiliki oleh kethoprak konvensional tersebut adalah yang saat ini semakin dilupakan oleh seniman kethoprak yakni wajib adanya tembang Jawa dalam setiap pertunjukannya. Selain tembang Jawa yang dibawakan oleh pengiring maupun pemain, salah satu ciri khas kethoprak konvensional adalah adanya rasa Jawa yang tidak dimiliki oleh kesenian lain.

Terkait pengetahuan masyarakat yang menganggap bahwa kethoprak konvensional tidak mau berkompromi dengan jaman, Widayat langsung menyanggah hal tersebut. Menurutnya, kethoprak konvensional akan selalu mengikuti perkembangan yang ada, dengan tetap menjaga nilai tradisi yang menjadi muatannya.

"Kethoprak konvensional juga bisa dikemas secara moderen. Misalnya dengan tata lampu canggih, sistem casting, dan mungkin struktur organisasi yang lebih moderen dan baik," tandasnya.

Jika semua hal di atas bisa terlaksana, Widayat yakin bahwa kethoprak konvensional akan kembali mendapat perhatian masyarakat lagi. Dengan begitu, dengan sendirinya kethoprak konvensional akan kembali bangun dari tidur panjangnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini