Tak disangkal, Jogja memiliki potensi seni tradisi yang besar. Untuk itu, dibutuhkan sebuah wadah ekspresi bagi seniman Jogja, sekaligus menjadi panggung hiburan bagi masyarakat dan wisatawan.
Klangenan Jogja, sebuah panggung hiburan rakyat, sejak Maret lalu digelar di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret pada setiap minggu terakhir di setiap bulannya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yulia Rustrianingsih menyatakan, Klangenan Jogja memang diselenggarkan untuk memberikan wadah bagi seniman yang ada di seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta.
"Acara ini khususnya bagi seni tradisi sebagai media ekspresi seniman sekaligus menjadi hiburan bagi wisatawan yang datang ke Jogja di malam hari," katanya di sela menyaksikan Klangenan Jogja di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Sabtu malam (31/7).
Yulia menambahkan, kegiatan ini dipastikan akan berlangsung setahun penuh pada tahun ini. Bahkan pihaknya berharap tahun depan kegiatan tersebut akan kembali digelar di tempat yang sama.
"Saya sudah mem-book tempat ini (Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret -red) setahun ini, jadi kegiatan ini pasti akan terus berlangsung pada Sabtu malam di setiap akhir bulan," tuturnya.
Nantinya, setiap kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta akan mendapatkan giliran untuk tampil di panggung Klangenan Jogja. Masing-masing kecamatan diberikan kesempatan untuk menampilkan potensi seni khususnya seni tradisi yang ada di setiap daerahnya.
Pada kesempatan Sabtu malam itu, Kecamatan Wirobrajan mendapat giliran untuk mempertunjukan potensi seni yakni ada seperti Paguyuban Seni Patang Puluhan, Paguyuban Seni Anak Bangsa Pakuncen, Kelompok Anak Wirobrajan yang menampilkan dolanan anak.
Saat ini, di Kota Yogyakarta setidaknya terdapat sekitar 543 kelompok seni yang hidup dan berkembang di 14 kecamatan. Dengan Klangenan Jogja, bukan tidak mungkin kelompok seni tradisi yang potensial akan semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat.



Kirim Komentar