Sepanjang Jalan Sosrowijayan, Minggu pagi (8/8) nampak lain dari hari biasanya. Ratusan warga yang berkelompok sibuk membuat maknana tradisional apem dalam Festival Apem Sosromenduran 2010.
Ketua Panitia Apeman dan Pencanangan Kelurahan Pariwisata Sosromenduran, Subaryo Broto menyatakan, wisatawan yang berkunjung ke Sosromenduran selalu menyempatkan jalan-jalan di Malioboro dan membeli cindramata.
"Sosromenduran hanya sebagai transit bukan tujuan utama. Maka warga bersama Muspika Gedongtengen ingin mewujudkan kampung wisata Sosromenduran yang warganya lebih kompak dan sinergis dalam rangka meningkatkan perekonomian dan mengurangi angka kemiskinan," ujarnya.
Camat Gedongtengan Zenni Lingga menyatakan, kegiatan kenduri ini selain bertujuan untuk melestarikan budaya juga merupakan simbol eratnya tali silaturahmi dan jalinan kekeluargaan yang harmonis.
Pencanangan Sosromenduran sebagai Kelurahan Pariwisata dilatarbelakangi oleh potensi kelurahan ini sendiri yaitu 138 Hotel, 29 kelompok kesenian, dilengkapi dengan Restoran dan sarana pendukung pariwisata.
"Selain itu terdapat 220 unit UMKM berbasis pariwisata. Maka setiap tahun selalu dikunjungi wisatawan domestik cukup besar. Agar kawasan ini bisa berkembang maka potensi ini harus dikelola dengan baik," paparnya.
Untuk mempermudah dalam menjaga komunikasi dan sinergi warga Sosromenduran maka dibentuk Badan Pengelola Pariwisata Sosromenduran. Dalam wadah ini semua pelaku pariwisata bisa merumuskan kegiatan hingga satu tahun ke depan.
Sementara itu Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menegaskan bahwa kerja keras pasti berhubungan dengan pendapatan, pendapatan berkaitan dengan pertumbuhan
ekonomi.
"DIY punya keunggulan kompetitf dibidang industri pariwisata, maka semua harus yakin bagaimana merekayasa dan menkonsep sektor industri pariwisata yang akan menarik sektor-sektor lainnya," pesannya.
Herry menambahkan, saat ini di Asia Pasifik, sektor industri pariwisata sebesar 15 persen merupakan angka yang besar. Jika di manfaatkan dengan baik, pariwisata bisa menjadi andalan menaikkan roda perekonomian dengan pesat.
"Kunci pariwisata adalah menyadari keunggulan keunikan yang dimiliki. Empat hal yang menjadikan tempat pariwisata yaitu apa yang dimakan, apa yang dibeli, apa yang dilihat dan apa yang bisa dilakukan," tambahnya.
Festival Apem Sosromenduran yang menjadi rangkaian Ruwahan dan Kenduri Massal dalam rangka Pencanangan Kelurahan Pariwisata Sosromenduran itu diresmikan oleh Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto pada hari Minggu (8/8).
Kegiatan tersebut diisi dengan Lomba apem dan kesenian jathilan anak dan barongsai oleh warga, yang saat itu kebanyakan memakai pakaian daerah jawa berupa surjan.
Saat datang, Walikota disambut dengan peragaan egrang dan sepatu batok kelapa, yang juga dicoba oleh herry Zudianto bersama para turis asing yang ada saat itu, sekaligus meninjau lomba apem oleh warga yang berlangsung di sepanjang jalan Sosrowijayan.
Ketua Panitia Apeman dan Pencanangan Kelurahan Pariwisata Sosromenduran, Subaryo Broto menyatakan, wisatawan yang berkunjung ke Sosromenduran selalu menyempatkan jalan-jalan di Malioboro dan membeli cindramata.
"Sosromenduran hanya sebagai transit bukan tujuan utama. Maka warga bersama Muspika Gedongtengen ingin mewujudkan kampung wisata Sosromenduran yang warganya lebih kompak dan sinergis dalam rangka meningkatkan perekonomian dan mengurangi angka kemiskinan," ujarnya.
Camat Gedongtengan Zenni Lingga menyatakan, kegiatan kenduri ini selain bertujuan untuk melestarikan budaya juga merupakan simbol eratnya tali silaturahmi dan jalinan kekeluargaan yang harmonis.
Pencanangan Sosromenduran sebagai Kelurahan Pariwisata dilatarbelakangi oleh potensi kelurahan ini sendiri yaitu 138 Hotel, 29 kelompok kesenian, dilengkapi dengan Restoran dan sarana pendukung pariwisata.
"Selain itu terdapat 220 unit UMKM berbasis pariwisata. Maka setiap tahun selalu dikunjungi wisatawan domestik cukup besar. Agar kawasan ini bisa berkembang maka potensi ini harus dikelola dengan baik," paparnya.
Untuk mempermudah dalam menjaga komunikasi dan sinergi warga Sosromenduran maka dibentuk Badan Pengelola Pariwisata Sosromenduran. Dalam wadah ini semua pelaku pariwisata bisa merumuskan kegiatan hingga satu tahun ke depan.
Sementara itu Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menegaskan bahwa kerja keras pasti berhubungan dengan pendapatan, pendapatan berkaitan dengan pertumbuhan
ekonomi.
"DIY punya keunggulan kompetitf dibidang industri pariwisata, maka semua harus yakin bagaimana merekayasa dan menkonsep sektor industri pariwisata yang akan menarik sektor-sektor lainnya," pesannya.
Herry menambahkan, saat ini di Asia Pasifik, sektor industri pariwisata sebesar 15 persen merupakan angka yang besar. Jika di manfaatkan dengan baik, pariwisata bisa menjadi andalan menaikkan roda perekonomian dengan pesat.
"Kunci pariwisata adalah menyadari keunggulan keunikan yang dimiliki. Empat hal yang menjadikan tempat pariwisata yaitu apa yang dimakan, apa yang dibeli, apa yang dilihat dan apa yang bisa dilakukan," tambahnya.
Festival Apem Sosromenduran yang menjadi rangkaian Ruwahan dan Kenduri Massal dalam rangka Pencanangan Kelurahan Pariwisata Sosromenduran itu diresmikan oleh Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto pada hari Minggu (8/8).
Kegiatan tersebut diisi dengan Lomba apem dan kesenian jathilan anak dan barongsai oleh warga, yang saat itu kebanyakan memakai pakaian daerah jawa berupa surjan.
Saat datang, Walikota disambut dengan peragaan egrang dan sepatu batok kelapa, yang juga dicoba oleh herry Zudianto bersama para turis asing yang ada saat itu, sekaligus meninjau lomba apem oleh warga yang berlangsung di sepanjang jalan Sosrowijayan.



Kirim Komentar