Seni & Budaya

Sleman Wakili DIY dalam Festival Prajurit di TMII

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Tahun ini, Kabupaten Sleman kembali mendapat kepercayaan untuk mewakili Propinsi DIY dalam acara Festival Prajurit Tradisional Nusantara 2010, yang digelar pada Minggu 24 Oktober 2010 mendatang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya, Nilai dan Tradisi (PBNT) Disbudpar Sleman Aji Wulantara, menyatakan, pada kesempatan tersebut, Sleman akan menampilkan Bregada Prajurit Tradisional Ambarketawang yang menghadirkan 90 personil asuhan Rovi Kurniawan dan Sancoko.

Menurut Aji, Festival Prajurit Tradisional Nusantara merupakan salah satu agenda dalam rangka Pekan Wira Budaya Tahun 2010 yang berlangsung mulai 24 Oktober hingga 10 November 2010.

"Pekan Wira Budaya dimaksudkan untuk menyambut dan memperingati Hari Pahlawan, Hari TNI, Hari Kesaktian Pancasila dan Hari Sumpah Pemuda yang disentralkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta," tuturnya di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/10).

Aji menambahkan, bahwa materi yang disajikan dalam Festival Prajurit Tradisional Nusantara 2010 meliputi kirab prajurit nusantara pada jaman kerajaan, masa perjuangan masing-masing daerah, dan kirab upacara adat. Sementara kriteria penilaiannya meliputi penampilan, originalitas dan kedisiplinan.

Sedangkan penghargaan yang diperebutkan berupa juara umum atau penyaji terbaik, lima penyaji unggulan, satu penyaji atraksi terbaik, satu penyaji arak-arakan terbaik, satu penyaji tata rias busana terbaik.

Dalam kesempatan tersebut, selain mengikuti kirab Bregada Prajurit Tradisional Ambarketawang, perwakilan Sleman juga menampilkan sebuah fragmen dengan judul "Sang Hamangkubumi".

Secara seingkat, cerita tersebut berkisahkan tentang Mangkubumi yang mempunyai nama kecil raden Mas Sujana. Putra seorang bangsawan putra Amangkurat IV Raja Kasunanan Kartasura itu adalah seorang yang gagah berani melawan penjajahan VOC. Berbagai pertempuran selalu dimenangkannya, di antaranya pertempuran Demak dan Grobogan pada tahun 1749.

Sejak perjanjian Giyanti, wilayah kerajaan Mataram dibagi dua, di mana Mangkubumi dengan gelar sultan Hamengkubuwono I menjadi raja di Yogyakarta. Dengan dukungan prajurit yang gagah berani pihaknya senantiasa siap menghadang mara bahaya ataupun musuh.

Sebelum mendirikan Kraton Ngayogyakarta, Sang Mangkubumi bertempat tinggal di pesanggrahan Ambarketawang, yang selalu berinteraksi sosial dengan abdi maupun kawulanya. Setelah sang Mangkubumi menempati Kraton Ngayogyakarta, ia memerintahkan kawulanya di Ambarketawang untuk membuat sesaji bekakak, berupa sepasang boneka penganten yang dibuat dari tepung beras.

Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat Ambarketawang terhindar dari mmarabahaya, sekaligus sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan Ki Wirosuta dan istrinya, abdi Sang Mangkubumi yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan Gunung Gamping.

Dalam perkembangannya masyarakat Ambarketawang Gamping dan seluruh kawula Ngayogyakarta senantiasa hidup dalam keadaan tata titi tentrem kerta raharja, dan masyarakatnya selalu "golong gilig, hamemayu hayuning bawana" sebagai sesanti Sang Hamengkubumi.
 

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini