
Sejumlah warga Sleman mengaku bahwa letusan Gunung Merapi terakhir yang terjadi pada Kamis (4/11) dini hari merupakan letusan terdahsyat yang pernah dirasakan. Bahkan, letusan kali ini juga memaksa warga yang relatif jauh dari lereng Merapi untuk mengungsi ke daerah yang lebih jauh dari Gunung Merapi.
"Saya sudah 6 tahun di hidup di sini. Letusan ini adalah letusan yang terbesar yang pernah saya alami seumur hidup saya," ujar Ngadimin (64) ketika berada di SDN Kentungan, Jl. Kaliurang KM 6,5 Sleman Yogyakarta, Jumat (5/11).
Di sekolah yang baru berubah menjadi tempat pengungsian sejak Kamis (4/11) dini hari itu, Ngadimin menyatakan ketakutannya karena pada letusan kali ini, Merapi tak hanya mengeluarkan awan panas saja, tapi juga kerikil.
"Hujan kerikil baru saya alami kemarin itu. Sebenarnya, sejak siang hari, saya dan warga sudah tidak nyaman lagi. Akhirya hujan kerikil memaksa saya dan warga kampung untuk mengungsi untuk pertama kalinya," terang kakek yang mengaku baru pertama kali mengungsi itu.
Ngadimin adalah warga Kelurahan Kopatan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, yang kali ini harus mengungsi dari letusan Gunung Merapi. Padahal, tempat tinggalnya berada sekitar 20 kilometer dari puncak Merapi.
Sementara itu, Sri Supraptini (42) juga mengakui bahwa letusan Gunung Merapi kali ini sungguh besar. Tempat tinggalnya yang berada di Jalan Kaliurang KM 18,5, atau hanya sekitar 12 kilometer dari puncak Merapi mengharuskannya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih rendah atau jauh dari Merapi.
"Sebenarnya, sebelumnya kami belum pernah mengungsi jika Gunung Merapi meletus karena rumah kami lumayan jauh dari Merapi. Tapi kali ini saya dan seluruh warga kampung harus mengungsi karena letusan Merapi yang besar," paparnya.
Penjual emping yang saat ini harus berhenti berdagang itu berharap agar letusan Merapi dahsyat kali ini menjadi letusan terakhir yang pernah dialaminya. "Semoga tidak ada lagi, kasihan korbannya," harapnya.
Kedahsyatan letusan Merapi kali ini tak hanya ditandai oleh hujan abu yang mencapai wilayah Bantul, tapi juga hujan kerikil pada letusan Kamis dini hari, serta kerasnya bunyi gemuruh Merapi ketika mengeluarkan material vulkanik dan wedhus gembelnya.
Ngadimin adalah satu dari sekitar 200 warga Kopatan yang harus mengungsi di SDN Kentungan, Sleman Yogyakarta. Baik Sri Supraptini maupun Ngadimin berharap agar letusan ini adalah letusan terbesar terakhir yang mereka alami.



Kirim Komentar