Banyaknya isu negatif dan pemberitaan negatif yang belakangan ini dihembuskan terkait bencana Gunung Merapi tak pelak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Jogja belakangan ini.
Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab M Danunagoro mengakui bahwa kondisi pariwisata khususnya dalam hal perhotelan, baik hotel bintang maupun non bintang berada situasi yang sulit setelah letusan Gunung Merapi.
Menurutnya, selain adanya isu dan pemberitaan negatif tentang Merapi, hal tersebut juga dikarenakan penutupan Bandar Adisucipto yang mengakibatkan sejumlah wisatawan baik domestik maupun internasional membatalkan kunjungannya ke Jogja.
"Seharusnya, saat ini adalah high season, tapi nyatanya malah menjadi sepi karena keadaan yang tidak menguntungkan ini," ujarnya, Selasa (9/11).
Bahka menurutnya, saat ini banyak tamu hotel yang meminta uangnya kembali padahal telah deposit sebelumnya. Meski demikian, pihaknya mencoba memahami dan akhirya mengembalikan juga uang deposit itu.
Sebagai contoh, Accor Grup Jogja menyatakan pihaknya sama sekali tidak menerima tamu pada 8-10 November. Yang ada hanya booking-an kamar lama.
saat ini, tamu hotel yang menginap justru merupakan korban Merapi yang hendak mengungsi. Untuk itu, pihaknya memebrikan harga khusus bagi para pengungsi yang menginap di hotelnya.
"Selain itu hotel juga memberi tempat khusus bagi karyawan hotel yang mengungsi sebagai wujud kepedulian hotel akan musibah yang dialami karyawannya," paparnya.
Meski mengalami masa yang sulit, Istidjab menegaskan akan tetap berusaha untuk mengembalikan citra Jogja sebagai Kota Pariwisata. Jogja tak hanya Kaliurang, tapi ada Pantai Parangtritis, Kraton Yogyakarta, Tamansari, Candi Prambanan, dll.
Terkait hal itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bandar Udara Adisucipto, Asita dan stake holder pariwisata Jogja untuk memulihkan pariwisata Jogja dan menyatakan bahwa Jogja masih aman untuk dikunjungi dan masih nyaman menjadi daerah tujuan wisata.
Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab M Danunagoro mengakui bahwa kondisi pariwisata khususnya dalam hal perhotelan, baik hotel bintang maupun non bintang berada situasi yang sulit setelah letusan Gunung Merapi.
Menurutnya, selain adanya isu dan pemberitaan negatif tentang Merapi, hal tersebut juga dikarenakan penutupan Bandar Adisucipto yang mengakibatkan sejumlah wisatawan baik domestik maupun internasional membatalkan kunjungannya ke Jogja.
"Seharusnya, saat ini adalah high season, tapi nyatanya malah menjadi sepi karena keadaan yang tidak menguntungkan ini," ujarnya, Selasa (9/11).
Bahka menurutnya, saat ini banyak tamu hotel yang meminta uangnya kembali padahal telah deposit sebelumnya. Meski demikian, pihaknya mencoba memahami dan akhirya mengembalikan juga uang deposit itu.
Sebagai contoh, Accor Grup Jogja menyatakan pihaknya sama sekali tidak menerima tamu pada 8-10 November. Yang ada hanya booking-an kamar lama.
saat ini, tamu hotel yang menginap justru merupakan korban Merapi yang hendak mengungsi. Untuk itu, pihaknya memebrikan harga khusus bagi para pengungsi yang menginap di hotelnya.
"Selain itu hotel juga memberi tempat khusus bagi karyawan hotel yang mengungsi sebagai wujud kepedulian hotel akan musibah yang dialami karyawannya," paparnya.
Meski mengalami masa yang sulit, Istidjab menegaskan akan tetap berusaha untuk mengembalikan citra Jogja sebagai Kota Pariwisata. Jogja tak hanya Kaliurang, tapi ada Pantai Parangtritis, Kraton Yogyakarta, Tamansari, Candi Prambanan, dll.
Terkait hal itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bandar Udara Adisucipto, Asita dan stake holder pariwisata Jogja untuk memulihkan pariwisata Jogja dan menyatakan bahwa Jogja masih aman untuk dikunjungi dan masih nyaman menjadi daerah tujuan wisata.



Kirim Komentar