Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif memperingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun termasuk berwisata di atas debris atau material vulkanik di sungai sekitar Gunung Merapi.
Menurutnya, material vulkanik berupa pasir di sekitar sungai yang berada di zona berbahaya masih memiliki suhu yang tinggi.
"Di ujung lidah pasir itu kedalaman 20 cm panasnya lebih dari 100 derajat. Itu artinya makin kedalam makin panas lagi," katanya di Media Center Tanggap Darurat Bencana Merapi, Jumat (19/11).
Untuk itu, demi keselamatan bersama, pihaknya memerintahkan juga kepada aparat keamanan agar mencegah masyarakat yang datang untuk berwisata melihat-lihat atau berfoto diatas tumpukan material vulkanik bekas aliran lahar Merapi.
Sementara mengenai kondisi Merapi saat ini, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM ) Surono mengatakan, kondisi Merapi masih dalam status Awas meskipun memang aktivitas kegempaannya ada penurunan baik jumlah maupun energinya.
"Belum bisa ngajak turun ke level rendah. Hanya radiusnya tingkat ancamannya yang berkurang. Kalau dulu masyarakat diminta awas mundur, saat ini awas namun boleh maju keatas sampai batas yang ditentukan," terangnya.
Dijelaskan Surono, status tetap awas namun yang diubah adalah radius bahaya ancaman erupsi Merapinya. Untuk daerah Sleman, Boyolali dan Magelang, zona radius berbahaya mengalami penurunan.
Untuk Kabupaten Sleman yang tadinya daerah berbahayanya berada di radius 20 Km dari Puncak Merapi, ada penurunan khususnya dari Sungai Boyong ke arah barat menjadi 10 Km. Sedangkan dari Sungai Boyong ke arah Timur, radiusnya menjadi 15 Km.
"Dari kali Boyong ke arah barat, ancamannya sejauh radius 10 km. Dari Boyong ke timur kami tetapkan 15 kilometer," ujarnya. Sedangkan di Magelang dari 10 kilometer Boyolali 5 kilometer. Untuk Klaten zona masih tetap 10 kilometer. "PVMBG akan mengkaji secara terus menerus untuk menurunkan radiusnya," tegasnya.
Selain itu, Surono juga menjelaskan, saat ini seluruh dam-sabo atau bangunan penahan lahar yang berada di radius berbahaya sudah penuh oleh debris. Karenanya bagi masyarakat yang rumahnya berada di bantaran sungai untuk berhati-hati atas ancaman lahar khususnya yang berada 300 meter dari bibir sungai.
"Masyarakat jangan bayangkan lahar itu hanya campur air, tapi batu-batu besar juga ada," tambahnya.
Menurutnya, material vulkanik berupa pasir di sekitar sungai yang berada di zona berbahaya masih memiliki suhu yang tinggi.
"Di ujung lidah pasir itu kedalaman 20 cm panasnya lebih dari 100 derajat. Itu artinya makin kedalam makin panas lagi," katanya di Media Center Tanggap Darurat Bencana Merapi, Jumat (19/11).
Untuk itu, demi keselamatan bersama, pihaknya memerintahkan juga kepada aparat keamanan agar mencegah masyarakat yang datang untuk berwisata melihat-lihat atau berfoto diatas tumpukan material vulkanik bekas aliran lahar Merapi.
Sementara mengenai kondisi Merapi saat ini, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM ) Surono mengatakan, kondisi Merapi masih dalam status Awas meskipun memang aktivitas kegempaannya ada penurunan baik jumlah maupun energinya.
"Belum bisa ngajak turun ke level rendah. Hanya radiusnya tingkat ancamannya yang berkurang. Kalau dulu masyarakat diminta awas mundur, saat ini awas namun boleh maju keatas sampai batas yang ditentukan," terangnya.
Dijelaskan Surono, status tetap awas namun yang diubah adalah radius bahaya ancaman erupsi Merapinya. Untuk daerah Sleman, Boyolali dan Magelang, zona radius berbahaya mengalami penurunan.
Untuk Kabupaten Sleman yang tadinya daerah berbahayanya berada di radius 20 Km dari Puncak Merapi, ada penurunan khususnya dari Sungai Boyong ke arah barat menjadi 10 Km. Sedangkan dari Sungai Boyong ke arah Timur, radiusnya menjadi 15 Km.
"Dari kali Boyong ke arah barat, ancamannya sejauh radius 10 km. Dari Boyong ke timur kami tetapkan 15 kilometer," ujarnya. Sedangkan di Magelang dari 10 kilometer Boyolali 5 kilometer. Untuk Klaten zona masih tetap 10 kilometer. "PVMBG akan mengkaji secara terus menerus untuk menurunkan radiusnya," tegasnya.
Selain itu, Surono juga menjelaskan, saat ini seluruh dam-sabo atau bangunan penahan lahar yang berada di radius berbahaya sudah penuh oleh debris. Karenanya bagi masyarakat yang rumahnya berada di bantaran sungai untuk berhati-hati atas ancaman lahar khususnya yang berada 300 meter dari bibir sungai.
"Masyarakat jangan bayangkan lahar itu hanya campur air, tapi batu-batu besar juga ada," tambahnya.



Kirim Komentar