Waktu sangat berkaitan erat dengan apa yang akan dihasilkan saat anda berkutat dengan kamera foto. Setiap detik dalam adegan akan memiliki makna yang berbeda, itulah sebabnya saat mengabadikan sesuatu, insting anda dilatih untuk berfikir cepat saat memencet tombol shooter pada kamera.
Para fotografer sangat berjasa memberi anda, yang tidak hadir dalam sebuah peristiwa untuk ikut serta mengalami masa lalu yang menarik tersebut. Dalam sebuah tajuk yang berjudul Split Second, Split Moment Julian Sihombing mencoba menghadirkan peristiwa heroik dan menyentuh di Bentara budaya Yogyakarta pada Selasa-Rabu (5-13/04).

Laki-laki yang satu ini memang sangat tertarik dengan dunia fotografi sejak ia duduk di bangku SMA. Kemudian ia belajar meningkatkan pengetahuannya saat ia terjun di FISIP UI saat itu. ketertarikannya didunia fotografi jurnalistik membawanya pada sebuah pekerjaan pada 1985 di Jakarta-Jakarta Magazine dan disusul dua tahun setelahnya ia bekerja di Harian Kompas.

Laki-laki yang satu ini memang sangat tertarik dengan dunia fotografi sejak ia duduk di bangku SMA. Kemudian ia belajar meningkatkan pengetahuannya saat ia terjun di FISIP UI saat itu. ketertarikannya didunia fotografi jurnalistik membawanya pada sebuah pekerjaan pada 1985 di Jakarta-Jakarta Magazine dan disusul dua tahun setelahnya ia bekerja di Harian Kompas.
Dari sekian kumpulan pameran foto yang ada, anda akan dibawa menuju peristiwa masa lampau. dari peristiwa human Interest, demonstrasi, olah raga, foto kesenian dan budaya hingga peristiwa didalam gedung parlemen. Momen-monmet tersebut hanyabisa ditangkap oleh mereka yang sungguh siap, sudah memiliki kepekaan dan bekerja secara intuitif.
Banyak anggapan bahwa kualitas foto peristiwa dapat diukur dari kemampuan gambar tersebut untuk memaksa orang dari generasi yang berbeda ikut terlibat dalam peristiwa masa lalu itu. Banyak dari anda pasti menyebutnya "karya yang bernilai abadi" sebuah ironi untuk renggang waktu yang sempit yang hanya sekelebatan didalam proses pemotretannya.



Kirim Komentar