
Acara Slametan Digital di Langgeng Art Foundation tadi malam (12/05) nampak riuh dan ramai oleh kunjungan penggiat seni dan penikmat seni di Yogyakarta. Ratusan orang berkumpul di Langgeng Art Foundation yang berlokasi di jl. Suryodiningratan Yogyakarta.
Tim gudegnet penasaran dengan gelak tawa penonton yang terdengar dari luar gedung.
Serangkaian acara rupanya dipresentasikan kepada pengunjung mengingat acara ini merupakan event "selametan" gaya baru bagi
masyarakat pecinta seni kontemporer. Nampak puluhan wisatawan mancanegara ikut meramaikan pemutaran karya seni berupa seni
video, web art, film dan berbagai dukumentasi yang terkait selama semalam suntuk.
Tepat jam 20.00 WIB rasa penasaran tersebut terkuak saat seorang dalang kontemporer
memainkan "wayang kampung sebelah". Terlihat sangat unik dan lucu itulah yang membuat komunikasi sang dalang dengan
pengunjung tampak sangat terasa. Usut punya usut dalang yang sedang tampil ini berasal dari Surakarta Jawa tengah.
menurut sang dalang yang bernama Jliteng Suparman saat ditemui Tim Gudegnet seuasi pentas
mengatakan bahwa Wayang Kampung Sebelah ini dahulu didirikan oleh seorang pelukis asal Surabaya yang dulu beliau memiliki
boneka wayang yang bernama Wayang Kampung.
Namun karena Pak Harman yang menciptakan wayang tersebut telah selesai menyelesaikan
pendidikan S2-nya di UNS solo, kemudian rekan-rekan yang lain memberikan mandat kepada Jliteng
Suparman untuk meneruskan perjuangan yang diawali pada tahun 2000 itu.
"Karena wayang ini dahulu diciptakan oleh kawan kami, selanjutnya sebagai bentuk
penghormatan kepada Pak Harman saya menamai wayang ini dengan julukan Wayang Kampung Sebelah" ucap Suparman menjelaskan
kepada Tim Gudegnet. Wayang ini terbuat dari kulit lembu tidak berbeda dari wayang purwa namun sisi penokohan dan cerita
diambil dari aktivitas sehari-hari.
Jliteng Suparman mengungkapkan bahwa wayang ini merupakan bentuk komunikasi baru dimana
akhir-akhir ini banyak kesenian di Indonesia khususnya wayang purwa sangat sulit berkomunikasi secara lugas dengan keadaan
masyarakat saat ini. Sebenarnya ini merupakan bentuk keprihatinannya terhadap generasi muda yang sepertinya enggan
melestarikan seni budaya.
"Ini merupakan PR untuk kita bersama bagaimana memecah kesunyian dan menyadarkan masyarakat
akan pentingnya aset budaya kita. Semoga dengan adanya wayang kontemporer ini, kita bisa membuka kembali pikiran kita akan
akar budaya yang ada." Pungkas Jliteng Suparman.



Kirim Komentar