Sore itu Minggu (09/10) sejumlah remaja latihan musik Hip-hop. Namun saat Tim Gudegnet
mencoba mendengarkan lebih dalam, ternyata instrumen musik yang mereka mainkan bukanlah menggunakan peralatan DJ layaknya
Hip-hop Amerika. Komunitas itu hanya menggunakan mulut sebagai instrumen musiknya.
Ia adalah Satria, sosok anak muda berbakat ini merupakan salah satu dari puluhan remaja
lain yang ikut bergabung dalam Komunitas Beatboxing Of Jogja (Bejo). Semakin lama mendengarkan musik dari mulut tersebut, Tim
Gudegnet semakin penasaran ingin mengetahui lebih dalam mengenai kumpulan anak-anak muda berbakat ini.
Satria kebetulan didapuk oleh teman-temannya sebagai manager dalam komunitas tersebut. Ia
mulai menjelaskan komunitas yang baru dirintis bersama kawan-kawannya sekitar 1 September 2009.
Beatboxing of Jogja sendiri (Bejo) dahulu berawal dari saling sharing kawan-kawan di
Facebook antar anggota Indonesian Beatboxing Community (IBC).
Melalui latar belakang yang sama itulah maka Gigih dan Favre kemudian bertemu serta sepakat
mendirikan beatboxing di Yogyakarta, kemudian mereka berdua itu dibantu oleh Upboot yang berasal dari Solo Beatboxing
Community yang sudah terbentuk dahulu komunitasnya.
"Detilnya, Beatboxing itu merupakan Urban Vocal Percusion dimana para anggotanya menirukan
suara seperti bunyi Drum dan patern ketukan dengan menggunakan bibir," Jelas Satrio.
Seiring perkembangan jaman, kini para Beatboxer sebutan para pelaku beatboxing sering
menggunakan teknik-teknik vocal perkusi. Letak perbedaannya adalah pada gayanya. Kebanyakan dikomunitas itu sering
menciptakan gaya musik urban yang diminati oleh penikmat musik beatbox diseluruh Indonesia.



Kirim Komentar