
Erma Dwi Wahyuni, bocah kelas 3 SD Sendangsari Putat Patuk Gunungkidul ini terpaksa tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Sejak 12 hari yang lalu, ia tergolek lemah di Rumah Sakit Dokter Sardjito akibat 2 gigitan ular berbisa di kaki kirinya. Gigitan tersebut ia dapatkan di dekat rumahnya, saat ia bersama ibunya pulang dari rumah saudaranya menengok bayi yang baru lahir.
Ibunya, Lusiana menuturkan, akibat gigitan ular tersebut, Erma terpaksa harus menjalani transfusi darah puluhan kali. Pasalnya, seluruh racun yang terkandung dalam bisa ular tersebut telah masuk ke dalam jantungnya. Bahkan, akibat gigitan ular tersebut mata kirinya hampir mengalami kebutaan.
"4 hari dirawat di UGD alhamdulillah sudah semakin membaik. Anak saya sudah doyan makan, padahal selama di UGD setiap kali makanan masuk selalu dimuntahkan bersama darah," tutur Lusi.
Kini, anak kedua dari pasangan Teguh dan Lusiana tersebut masih tergolek di Ruang Melati Kamar Nomer 6. Ia belum diperbolehkan pulang, pasalnya Erma masih harus dibantu dengan alat jika ingin buang air kecil.
Persoalan kemudian muncul, besarnya biaya yang harus ditanggung oleh Lusiana dan Suaminya. Meski tercatat sebagai pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) namun tidak semua biaya yang harus dikeluarkan tercover. Karena dalam 1 malam, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp1,5 juta.
Lusiani dan Suaminya hanyalah seorang buruh. Siang hari mereka bekerja di pembuatan bibit jati di dekat rumah mereka di Dusun Kepil, Putat, Kecamatan Patuk Gunungkidul. Di malam hari mereka menyambung hidup dengan buruh amplas topeng, kebetulan tempat tinggal mereka dekat dengan sentra kerajinan topeng batik Bobung. Selain mengurusi dua anaknya, mereka juga harus merawat orang tuanya yang sudah jompo.
Meski sembari tergolek di rumah sakit besar tekad Erma untuk tetap bersekolah. Sembari menunggu diijinkan pulang, Erma terus berusaha belajar. Berharap bisa langsung mengikuti ujian kenaikan kelas, meski harapannya tipis, pasalnya Sabtu depan sudah pembagian rapor.



Kirim Komentar