
Kota Yogyakarta setiap harinya harus menampung kira-kira 2.000 kubik sampah atau setara dengan 20 kali luas lapangan bola. Jika sampah ini terus menumpuk dan tak mendapatkan pengendalian optimal, maka dapat berujung petaka. Dampak tersebut semakin lama terasa baik dari sisi kesehatan, lingkungan maupun sosial ekonomi.
Keadaan itu membuat Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.,mengembangkan pola pengelolaan sampah dalam lingkungan kampus. "UGM beserta University of Boras, Swedia melakukan penelitian berupa sistem pengelolaan sampah terpadu di lingkungan kampus FT UGM," katanya " Ini meliputi kegiatan pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan agar sampah berdaya secara optimal."
Model pengelolaan sampah ini sebenarnya serupa sistem lama yang pernah diterapkan di lingkungan masyarakat dengan pengelompokan sampah berdasarkan kategorinya. "Apakah sampah organik, sampah logam, plastik, kaca, daun atau sampah lain," kata Panut.
Dimana petugas mengumpulkan sampah ke beberapa tempat berbeda, dibawa menuju tempat sampah yang lebih besar di setiap jurusan selanjutnya dibawa ke depo atau sobaken area. Sampah organik selanjutnya dikirim menuju KP4 (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) untuk dimanfaatkan menjadi kompos. "Sampah berupa plastik, gelas, logam, dan kertas diserahkan pada pemulung agar didaur ulang," katanya. "Sementara sampah lainnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)."
Ia mengharapkan sistem pengolahan sampah ini dapat membantu mengurangi, beban yang di tanggung oleh TPA-TPA tersebut.
Sosial Ekonomi
Mini Sobaken Guna Optimalisasi Sampah




Kirim Komentar