
Ruangan seluas 5 x 6 meter itu penuh. Hiasan warna merah mendominasi dinding dan bagian pintu. Para pengunjung datang, mengambil nomer antrian, lalu menunggu dipanggil oleh si peramal. Ada misteri yang coba dibuka. Ada kegelisahan dan ketaksabaran disana.
Dua perempuan muda duduk di balik dua meja. Mereka yang datang akan mendapatkan informasi tentang masa depan yang terjadi. Selain lewat garis tangan, kedua peramal itu menggunakan kartu tarot untuk membaca nasib dan peruntungan. Biasanya, para pengunjung lantas bertanya macam-macam, mulai urusan jodoh, rejeki sampai kesehatan. Ada yang tampak gembira dan puas. Ada yang kecewa atau bahkan biasa saja dengan hasilnya.
Yanti, perempuan berusia 44 tahun ini seperti ketagihan diramal. Ia mengatakan sudah tiga kali datang. "Setiap tahun," katanya. "Kalau ada acara di Ketandan (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta - red)." Menurutnya, perjalanan hidupnya sama persis dengan prediksi si peramal.
Tiga tahun yang lalu ia diramal bakal bercerai dengan suaminya. "Ternyata benar," katanya. "Saya cerai." Kemudian ia datang lagi dan si peramal mengatakan ia segera mendapat "tombo ati." Ia lalu mengisahkan pertemuannya dengan seorang laki-laki selama proses perceraian.
"Laki-laki ini sifatnya berbeda 180 derajat dari suami saya," katanya. Menurutnya, suaminya suka mabuk-mabukkan, bermain judi, dan menyepelekannya. "Saya satang lagi kesini. Mau tanya, diakah tombo ati itu."
Sedangkan Niko, 16 tahun, menganggap ramalan sebagai hiburan. "Ramalan saya baik," katanya. " Katanya karir dan asmara baik, kesehatan tidak." Baginya, tak ada yang perlu dianggap serius dari sebuah ramalan.
"Selebihnya masa depan kita sendiri yang menentukan," katanya.
Setelah selesai diramal, Niko memasukkan amplop putih ke dalam kotak berwarna emas. Saat ditanya jumlahnya, siswa sekolah menengah ini mengatakan antara 10 sampai 20 ribu rupiah.
Selain Niko, ada Nando. Mereka sekolah di tempat yang sama. "Ramalan jodohnya jelek," katanya saat ditanya tentang ramalan dirinya.
Menurutnya, datang ke peramal hanya untuk hiburan dan coba-coba. "Tidak ada yang bisa memprediksi benar atau salah," katanya. "Tingkat kepercayannya juga cuma 20%."
Meskipun begitu, baik Nando dan Niko memutuskan untuk antri dan minta diramal lagi.
"Kalau tadi pakai garis tangan," kata Niko. "Sekarang coba pakai kartu tarot."
"Yah, siapa tahu hasilnya berbeda," kata Nando.
Bisa jadi misteri itu ada agar hidup tetap menarik dan menantang untuk dijalani.




Kirim Komentar