(Yogyakarta - Gudeg.net) Beberapa aksi bunuh diri menggemparkan warga Yogyakarta akhir-akhir ini. Banyak yang menyayangkan, tak sedikit yang mengunggah foto miris peristiwa itu di beberapa sosial media. Bagian yang terlupa ialah kejadian itu merupakan puncak gunung es atas berbagai persoalan hidup yang berkembang dan tak teratasi. Ini sebuah tragedi kemanusiaan yang terus saja terulang. Namun, apa saja hal-hal yang membuat seseorang memilih menyudahi hidupnya secara sadar? Ada enam alasan yang penting untuk diketahui.
Pertama, depresi. Keadaan ini menjadi penyebab umum keputusan bunuh diri. Awalnya dari pikiran kalut karena peristiwa buruk yang tak bisa dikomunikasikan dengan baik. Lalu, muncul anggapan bahwa menghadap sang maut menjadi jalan untuk bahagia dan bebas dari persoalan hidup. Bisa juga, ini menjadi cara "heroik" untuk membuat orang lain lebih bahagia. Semisal, kasus bunuh diri pasien penderita kanker karena tak ingin terus menerus membebani anggota keluarganya.
Kedua, persoalan psikologis, seperti schizoprenia. Para penderita penyakit ini sering mendengar semacam "suara-suara" yang memerintahkan melakukan sesuatu. Bahayanya, jika suara itu seakan-akan meminta untuk bunuh diri. Untuk mengatasinya diperlukan pengobatan dan pendampingan dalam waktu relatif lama sampai "suara-suara" itu menghilang dan tak memiliki kekuatan lagi.
Ketiga, impulsif. Keadaan in berkaitan dengan kebiasaan buruk mengkonsumsi alkohol dan narkotika. Mereka yang berada di bawah pengaruh kedua hal itu bisa melakukan tindakan-tindakan yang tidak terencana, mendadak dan diulang keesokan harinya.
Keempat, rendahnya empati. Percayalah, tak ada seorang pun yang ingin bunuh diri. Biasanya, mereka memiliki persoalan berat yang sulit dibicarakan secara terbuka. Kondisi ini menuntut kepekaan dari lingkungan sekitar. Cara paling sederhana ialah dengan menyapa dan bertanya. Jangan sampai tindakan bunuh diri dilakukan hanya karena mereka mengirimkan tanda "S.O.S." atau sedang butuh bantuan.
Kelima, alasan filosofis. Seseorang bisa mengakhiri hidupnya karena pemahamannya tentang hidup itu sendiri. Hidup dan mati menjadi tanggung-jawab pribadi, bukan kehendak Tuhan. Jadi, kapan dan bagaimana cara untuk mati dianggap sebagai kekuasaan pribadi atas tubuh dan kehidupan yang bernaung di dalamnya.
Keenam, tak bisa memaafkan diri sendiri. Setiap orang tentu memiliki harapan dan cita-cita tertentu. Namun, ada saatnya hal yang diinginkan tak terwujud. Bagi beberapa orang, kondisi ini menjadi pukulan berat dan dianggap sebagai kesalahan besar. Saking tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, lalu memilih bunuh diri.
Semoga peristiwa bunuh diri tak terjadi lagi di kemudian hari. Semua pihak memiliki peran dan tanggung-jawab untuk mencegah kejadian ini. Sekecil apapun, senyuman, pujian yang tulus akan membuat hati orang lain lebih damai. Hal itu jauh lebih baik ketimbang cacian dan makian yang dilontarkan lewat berbagai cara, termasuk sosial media.




Kirim Komentar