Hanya butuh latihan 1 minggu bagi penabuh serta penari yang tergabung dalam Paguyuban Peminat Seni Tradisi Puspa Blambangan SD Kepatihan Banyuwangi yang mementaskan sajian menarik berupa pentas tari gandrung serta lelagon gamelan Padang Bulan dalam rangka meramaikan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) di Plasa Ngasem Yogyakarta semalam.
Zulfikar, Nanda, Dela serta teman-teman lain memukau ribuan publik Yogya dengan menampilkan musik gamelan asli Banyuwangi dengan total durasi 30 menit. Tidak ada kertas notasi disamping mereka. Semuanya dimainkan diluar kepala dan tidak ada salah sedikitpun. Fantastis.
Bagi penabuh gamelan, YGF merupakan ajang pertama yang diikuti setelah sebelumnya pentas di Istana Kepresidenan belum lama ini. Paguyuban ini ternyata memiliki segudang pretasi dalam menampilkan kesenian tabuh tradisional asal jawa tersebut. "Dalam kurun waktu 1 bulan, kami memperoleh juara pertama ditingkat provinsi Jawa Timur dalam fertival gamelan," jelas Suko pembina sekaligus pelatih paguyuban tersebut.
Menurut Suko, dalam melestarikan gamelan Banyuwangi disadari memang gampang-gampang susah, namun, hal tersebut tidak menjadikan sebuah halangan untuk tetap melestarikan gamelan yang kini juga diminati oleh negara lain. "Orang tua justru bangga anak-anaknya piawai memainkan gamelan Jawa, jadi dalam pembinaan generasi muda di Banyuwangi kami optimis,"jelasnya.
Sementara itu, Nanda salah seorang penabuh kendang mengaku bangga bisa tampil diajang ini. Ia dapat mengekspresikan kemampuan bermain kendang dihadapan publik Jogja. Dalam pertunjukan ini, baik Nanda maupun Suko selaku pembina berharap gelaran YGF bisa menjadi ajang positif mencari bakat-bakat muda dibidang seni musik Jawa. "Semoga penampilan kami dapat diterima masyarakat Jogja, bukan cuma santet saja yang dikenal didaerah kami," pungkas Suko diiringi gelak tawa seluruh penonton.
Seni & Budaya
SD Puspa Blambangan Pukau Penonton YGF




Kirim Komentar