Seni & Budaya

Pejuang Dari Keluarga Pakualaman dan Janji Paku Alam X Saat Penobatannya

Oleh : Admin / Kamis, 07 Januari 2016 11:20
Pejuang Dari Keluarga Pakualaman dan  Janji Paku Alam X Saat Penobatannya


Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo selesai mengucapkan pidato perdananya saat dinobatkan menjadi Paku Alam X pada Kamis (7/1/2016).  Ia menggantikan Paku Alam IX yang meninggal dunia pada 20 November 2015.

Ia mengatakan akan terus menerus berada dalam tegangan antara tradisi dan pembaharuan. Oleh karena proses berkreasi selalu menuntut adanya inovasi. Lebih-lebih ketika perubahan ada di dalam masa yang sangat cepat.

Untuk melakukan tugas itu, Paku Alam X (PA X) mengharapkan peran serta warga Yogyakarta pada umumnya serta keluarga besar Pakualaman pada khusunya. Sebatas kemampuannya, ia berjanji akan bekerja sekuat tenaga untuk memenuhi harapan nusa bangsa, warga Yogyakarta serta keluarga besar Pakualaman. 

Momen Mengingat Kembali Pejuang Rakyat dari keluarga Pakualaman 

Penobatan PA X ini menjadi peristiwa penting mengingat pahlawan-pahlawan dari keluarga Pakualaman. Seperti Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan serta Soerjopranoto. 

Pemerintah kolonial menyebutnya sebagai “Raja Pemogokan” atau dalam bahasa Belanda-nya disebut De Stokings Koning. Kakak dari Ki Hadjar Dewantara ini sejak muda terkenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Soerjopranoto lahir di Yogyakarta pada 11 Januari 1871. Ia anak sulung dari Kanjeng Pangeran Haryo Soerjaningrat, putra tertua Sri Paku Alam III. Tahun 1900 ia mendirikan koperasi simpan pinjam bernama Mardi Kaskaya. Setahun berikutnya, ia membuat klub pertemuan Societeit Sutrohardjo untuk tempat membaca surat kabar dan majalah.

Lalu saat organisasi pemuda Boedi Utomo hadir, ia bergabung. Beberapa tahun kemudian ia keluar dan mendirikan Arbeidsleger Adhi Dharma (Barisan Kerja A.D.) pada tahun 1915 di Yogyakarta. Lewat Barisan Kerja A.D. ia menyelenggarakan ceramah, diskusi tentang pergerakan, melangsungkan kursus-kursus pemberantasan buta huruf serta mengajari kerajinan bagi kaum wanita. Sedangkan saat aktif di Sarekat Islam ia memberi pelatihan pemikiran-pemikiran politik. Saat berjuang bersama Agus Salim, ia memimpin Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB).

Setelah wafat pada 15 Oktober 1959, ia dikebumikan di pemakaman keluarga “Rachmat Jati” di Kotagede, Yogyakarta. Ia mendapat anugerah Mahaputera tingkat II Republik Indonesia, serta Pahlawan Kemerdekaan Nasional RI lewat keputusan Presiden No. 310.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini