Rohaniwan dan budayawan Romo Franz Magnis Suseno menyatakan era
globalisasi menjadikan seseorang semakin sulit untuk menerapkan sikap
membangun budaya humanis dan inklusif dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut disampaikan tokoh pluralis yang sering disapa denga Romo Magnis ini saat memberikan kuliah pembuka Angkatan september 2009 Program Pascasarjana UAJY "Peluang dan Tantangan Pendidikan Pascasarjana dalam membangun BUdaya yang Humanis dan Inklusif" di Gedung Bonaventura UAJY, Sabtu (29/8).
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung terbawa arus globalisasi dengan berperilaku hidup yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tanpa memperhatikan sisi humanis yang seharusnya ada di setiap orang.
"Saat ini kita lebih konsumtif pragmatis. Punya handphone saja harus selalu yang terbaru karena ikut-ikutan perkembangan," katanya dalam kuliah yang dikuti oleh sekitar 67 mahasiswa pascasarjana UAJY tersebut.
Romo Magnis juga mengkritik tentang perilaku eksklusif yang akhir-akhir ini sering diperlihatkan oleh sejumlah pihak. Menurutnya, perilaku tersebut adalah perbuatan picik yang tak seharusnya dilakukan.
"Yang perlu dipertanyakan saat ini adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia, bukan berdasarkan identitas agama, etnis maupun yang lain," tegasnya.
Selain itu, Romo Magnis juga mempertanyakan tentang nasionalisme bangsa Indonesia yang semakin absurd. "Mosok di rapat paripurna tak ada lagu Indonesia Raya?" ujar pria kelahiran Eckersdorf, Jerman, 1936 yang menjadi warga negara Indonesia pada 1977 tersebut.
Terkait tantangan membangun budaya humanis dan inklusif di Indonesia, Romo Magnis menyatakan ada lima hal pokok yang harus menjadi perhatian yakni sistem demokrasi yang kuat, pluralisme dan inklusivisme, keadilan sosial, penataan kembali hubungan pusat dan daerah, serta kepastian hukum dari negara.
Sedangkan Untuk menghadapi tantangan tersebut, Romo Magnis menegaskan agar semua pihak khususnya pemerintah agar mampu berlaku adil dan beradab terhadap seluruh warga negara, terlebih bagi mereka yang kekurangan.
Hal tersebut disampaikan tokoh pluralis yang sering disapa denga Romo Magnis ini saat memberikan kuliah pembuka Angkatan september 2009 Program Pascasarjana UAJY "Peluang dan Tantangan Pendidikan Pascasarjana dalam membangun BUdaya yang Humanis dan Inklusif" di Gedung Bonaventura UAJY, Sabtu (29/8).
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung terbawa arus globalisasi dengan berperilaku hidup yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tanpa memperhatikan sisi humanis yang seharusnya ada di setiap orang.
"Saat ini kita lebih konsumtif pragmatis. Punya handphone saja harus selalu yang terbaru karena ikut-ikutan perkembangan," katanya dalam kuliah yang dikuti oleh sekitar 67 mahasiswa pascasarjana UAJY tersebut.
Romo Magnis juga mengkritik tentang perilaku eksklusif yang akhir-akhir ini sering diperlihatkan oleh sejumlah pihak. Menurutnya, perilaku tersebut adalah perbuatan picik yang tak seharusnya dilakukan.
"Yang perlu dipertanyakan saat ini adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia, bukan berdasarkan identitas agama, etnis maupun yang lain," tegasnya.
Selain itu, Romo Magnis juga mempertanyakan tentang nasionalisme bangsa Indonesia yang semakin absurd. "Mosok di rapat paripurna tak ada lagu Indonesia Raya?" ujar pria kelahiran Eckersdorf, Jerman, 1936 yang menjadi warga negara Indonesia pada 1977 tersebut.
Terkait tantangan membangun budaya humanis dan inklusif di Indonesia, Romo Magnis menyatakan ada lima hal pokok yang harus menjadi perhatian yakni sistem demokrasi yang kuat, pluralisme dan inklusivisme, keadilan sosial, penataan kembali hubungan pusat dan daerah, serta kepastian hukum dari negara.
Sedangkan Untuk menghadapi tantangan tersebut, Romo Magnis menegaskan agar semua pihak khususnya pemerintah agar mampu berlaku adil dan beradab terhadap seluruh warga negara, terlebih bagi mereka yang kekurangan.



Kirim Komentar