Tak ditutupnya Jalan Malioboro saat penyelenggaraan Festival Museum 2009, Minggu (11/10), menyebabkan penyelenggaraan pawai yang menghadirkan benda-benda museum di DIY tersebut berjalan semrawut.Iring-iringan ke-22 peserta pawai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali bahkan berjalan bersamaan dengan pengguna jalan yang melintasi Jalan Malioboro. Tak bisa dihindarkan, pawai pun kurang dapat dinikmati oleh masyarakat yang menunggunya di sepanjang Jalan Malioboro.
Penonton yang menyaksikan pawai dari depan Hotel Inna garuda bahkan menyayangkan penyelenggaraan pawai yang seharusnya bisa digelar lebih rapi dan tertib.
"Sayang Jalan Malioboro tidak ditutup, jadi yang pawai dan orang yang lewat jadi satu, ga bisa dinikmati," keluh salah satu penonton pawai, Eko yang datang bersama anak dan istrinya.
Eko bahkan kembali menyatakan kekecewaanya terhadap pawai karena merasa peserta pawai hanya lewat begitu saja. Sejumlah peserta pawai memang terlihat kurang terkoordinasi. Banyak yang berjalan begitu cepat sehingga penonton tak mampu menyaksikan dengan puas.
Meski harus menyusuri rute pawai dengan berebut dengan pengguna jalan di Malioboro, peserta pawai yang mulai berjalan pada sekitar pukul 14.30 WIB akhirnya bisa melewati panggung utama di depan Kantor Kepatihan, dan finish di di Benteng Vredeburg. Pada pawai tersebut, peserta pawai menampilkan benda-benda yang ada dalam museumnya masing-masing. Museum Affandi bahkan memamerkan patung raksasa sang Maestro Affandi yang tampil dengan kaos putih, kuas, paletnya. Museum Sasmitaloka Pangsar Panglima Jendral Sudirman menampilkan patung dan tandu jendral Sudirman yang digunakannya semasa perang kemerdekaan. Sedangkan Museum Gembira Loka bahkan menyertakan sejumlah satwa hidup seperti orangutan dan sejumlah satwa seperti burung dan ular.
Urutan pawai karnaval dibagi menjadi tiga bagian, yakni yang pertama kelompok museum seni dan budaya yang meliputi meliputi Museum Keraton, Ulen Sentalu, Tembi, dan Museum Affandi. Disusul oleh kelompok museum sejarah dan perjuangan, seperti Museum Monumen Jogja Kembali, Museum Sasmitaloka Pangsar Panglima Jendral Sudirman, Museum Pancasila, dan Benteng Vredeburg. Sedang kelompok ketiga adalah museum ilmu pengetahuan dan pendidikan, seperti Museum Dewantara, Museum Biologi UGM, Museum RS Mata Yap, dan lain-lain.



Kirim Komentar