Sebuah lompatan dilakukan pelukis beken Putu Sutawijaya bersama teman-temannya yang tergabung dalam "Kelompok Hitam Manis". Mereka β kelompok Hitam Manis (Putu Sutawijaya, Maslihar Panjul, Robert Kan, Nyoman Adyana, Nyoman Agus Wijaya dan Wayan Novianto) -yang selama ini biasa berkutat dengan karya dua dimensi mencoba merambah ke tiga dimensi.
"Bukan kami untuk menyaingi para pematung, tapi kami memang mau belajar tiga dimensi di samping juga melakukan refreshing. Seniman kan juga perlu refreshing," ungkap Putu.
"Karya tiga dimensi yang kini tengah mereka kerjakan di bengkel milik Putu β tepat di depan Sangkring Art Space di wilayah Nitiprayan, Bantul - bisa dibilang monumental dan menggungah sedikit romantisme kondisi Yogya di era tahun 80βan, di samping pesan untuk masa mendatang.
Bertepatan dengan penyelenggaraan Biennale ke-10 yang akan berlangsung pada Desember hingga Januari mendatang, Kelompok Hitam Manis ini mempersiapkan karya instalasi dengan menggunakan lima buah sepeda yang dilengkapi dengan sosok yang menggambarkan orang tengah naik sepeda. Karya instalasi ini akan dipajang di pembelah jalan di depan TV-tron yang terletak di perempatan lampu merah Taman Parkir Abubakar Ali, Yogyakarta.
"Kalau kami memilih menggunakan media sepeda itu karena dipandang secara visual sepeda itu sungguh menarik, di samping lewat sepada ini bisa disampaikan pesan untuk masa mendatang," ujarnya.
Keberadaan sepeda saat ini, menurut Maslihar Panjul, sungguh memprihatinkan. Kendaraan kereta angin yang mengandalkan tenaga kaki manusia ini yang dulunya berjaya hingga menjadikan Yogya dikenal sebagai kota sepeda semakin terdesak dengan kendaraan bermesin yang justru menyebabkan polusi di mana-mana.
Panjul melihat Yogya saat ini yang banyak dipenuhi kendaraan bermotor dan bahkan dibilang tak menyisihkan ruang bagi sepeda, ke depannya kota Jogja tak akan berbeda dengan kota Jakarta saat ini.
"Nah lewat karya kami ini mencoba sedikit mengkritisi masyarakat Yogya untuk bagaimana mencintai lagi sepeda. Ya paling tidak membangun gairah itu," tegas Panjul.
Panjul lantas mengajak menerawang kehidupan Yogya tempo doeloe yang dikatakan hampir setiap rumah mempunyai sepeda. Orang pun tatkala naik sepeda di jalanan juga merasa bangga. Bahkan, dulu ketika mau membeli sepeda meraka harus rela menjual seekor sapi.
Kini? Ketika dirinya berburu sepeda rongsok (dalam arti sudah tak terpakai lagi dan dionggokkan) untuk keperluan karyanya di desa Pajangan, Bantul, Ia melihat banyak sepeda yang dionggokkan begitu saja di kandang sapi atau kerbau.
Panjul bersama teman-temannya itu, ketika masuk rumah ke rumah penduduk itu dirinya juga tak bertindak semata hanya untuk membeli. Dengan penuh keakraban dan etika bertamu, mereka menerangkan maksud kedatangannya dan membicarakan seluk-beluk sepeda sebagai bentuk penyadaran betapa pentingnya sepeda saat ini.
"Ketika kami mau membeli, kami juga memastikan apakah betul-betul sepeda itu benar-benar
sudah rusak dan tak dipakai lagi. Jika masih bisa dipakai lagi, kami tak akan membelinya dan bahkan kami mengajarkan bagaimana cara merawat sepedanya," tambah Panjul.
Romantisme & Heroik, karya tiga dimensi yang tengah digarap Kelompok Hitam Manis dengan menggunakan media sepeda, diakui Putu sebagai bentuk romantisme Yogya tempo doeloe.
"Boleh dong kami melihat sisi romantis kota Yogya yang dulunya dikenal sebagai kota sepeda. Nah di sini kami mencoba memonumenkan atau mengingatkan lagi. Terlebih lagi yang kami gunakan juga sepeda lama, bukan buatan terbaru," tegas Putu yang diketahui sebagai salah satu seniman seni rupa Indonesia yang masuk dalam 500 Besar seniman yang karyanya terjual dengan harga tertinggi di bursa lelang di dunia.
Di sini Putu juga melihat, saat ini, orang yang mau naik sepeda di tengah hiruk pikuknya kendaraan bermotor (baik sepeda motor maupun mobil) yang menimbulkan kebisingan, polusi dan terancam keselamatannya di samping juga dianggap warga kelas 3, maka dia adalah seorang hero (pahlawan).
Dalam karyanya tiga dimensi ini, sepeda-sepeda ini akan disertai patung orang yang tengah mengayun kereta angin ini. Menurut rencana, ada yang memakai simbol Batman dan lain sebagainya yang saat ini dikenal sebagai tokoh hero.
"Sekarang ini kan orang naik sepeda itu kan bisa dikatakan sebagai hero. Hero sesungguhnya karena mereka masih memakai sepeda itu untuk bekerja ke kantor, ke pasar atau ke sawah," ujar Putu. Hero di sini, tambah Putu, juga bisa diartikan sebagai orang yang mencegah polusi di saat global warming.
Namun Putu menegaskan, kalaupun kini kelompoknya begitu fokus dengan keberadaan sepeda hanyalah sebatas mengingatkan saja, bukan mengajak warga untuk kembali naik sepeda. "Itu fungsi pemerintah," tegasnya lagi.
Untuk saat ini karya Kelompok Hitam Manis hanya diperuntukkan untuk keperluan Biennale saja. Kalau nantinya dipandang oleh penguasa Yogya baik dan diminta untuk dipermanenkan, maka Kelompok Hitam Manis akan bersedia mengerjakan. Termasuk jika ada yang mau menyumbang sepeda rongsokan. "Semua itu kan tergantung pada pak Walikota," kata Putu mengakhiri percakapannya.
"Bukan kami untuk menyaingi para pematung, tapi kami memang mau belajar tiga dimensi di samping juga melakukan refreshing. Seniman kan juga perlu refreshing," ungkap Putu.
"Karya tiga dimensi yang kini tengah mereka kerjakan di bengkel milik Putu β tepat di depan Sangkring Art Space di wilayah Nitiprayan, Bantul - bisa dibilang monumental dan menggungah sedikit romantisme kondisi Yogya di era tahun 80βan, di samping pesan untuk masa mendatang.
Bertepatan dengan penyelenggaraan Biennale ke-10 yang akan berlangsung pada Desember hingga Januari mendatang, Kelompok Hitam Manis ini mempersiapkan karya instalasi dengan menggunakan lima buah sepeda yang dilengkapi dengan sosok yang menggambarkan orang tengah naik sepeda. Karya instalasi ini akan dipajang di pembelah jalan di depan TV-tron yang terletak di perempatan lampu merah Taman Parkir Abubakar Ali, Yogyakarta.
"Kalau kami memilih menggunakan media sepeda itu karena dipandang secara visual sepeda itu sungguh menarik, di samping lewat sepada ini bisa disampaikan pesan untuk masa mendatang," ujarnya.
Keberadaan sepeda saat ini, menurut Maslihar Panjul, sungguh memprihatinkan. Kendaraan kereta angin yang mengandalkan tenaga kaki manusia ini yang dulunya berjaya hingga menjadikan Yogya dikenal sebagai kota sepeda semakin terdesak dengan kendaraan bermesin yang justru menyebabkan polusi di mana-mana.
Panjul melihat Yogya saat ini yang banyak dipenuhi kendaraan bermotor dan bahkan dibilang tak menyisihkan ruang bagi sepeda, ke depannya kota Jogja tak akan berbeda dengan kota Jakarta saat ini.
"Nah lewat karya kami ini mencoba sedikit mengkritisi masyarakat Yogya untuk bagaimana mencintai lagi sepeda. Ya paling tidak membangun gairah itu," tegas Panjul.
Panjul lantas mengajak menerawang kehidupan Yogya tempo doeloe yang dikatakan hampir setiap rumah mempunyai sepeda. Orang pun tatkala naik sepeda di jalanan juga merasa bangga. Bahkan, dulu ketika mau membeli sepeda meraka harus rela menjual seekor sapi.
Kini? Ketika dirinya berburu sepeda rongsok (dalam arti sudah tak terpakai lagi dan dionggokkan) untuk keperluan karyanya di desa Pajangan, Bantul, Ia melihat banyak sepeda yang dionggokkan begitu saja di kandang sapi atau kerbau.
Panjul bersama teman-temannya itu, ketika masuk rumah ke rumah penduduk itu dirinya juga tak bertindak semata hanya untuk membeli. Dengan penuh keakraban dan etika bertamu, mereka menerangkan maksud kedatangannya dan membicarakan seluk-beluk sepeda sebagai bentuk penyadaran betapa pentingnya sepeda saat ini.
"Ketika kami mau membeli, kami juga memastikan apakah betul-betul sepeda itu benar-benar
sudah rusak dan tak dipakai lagi. Jika masih bisa dipakai lagi, kami tak akan membelinya dan bahkan kami mengajarkan bagaimana cara merawat sepedanya," tambah Panjul.
Romantisme & Heroik, karya tiga dimensi yang tengah digarap Kelompok Hitam Manis dengan menggunakan media sepeda, diakui Putu sebagai bentuk romantisme Yogya tempo doeloe.
"Boleh dong kami melihat sisi romantis kota Yogya yang dulunya dikenal sebagai kota sepeda. Nah di sini kami mencoba memonumenkan atau mengingatkan lagi. Terlebih lagi yang kami gunakan juga sepeda lama, bukan buatan terbaru," tegas Putu yang diketahui sebagai salah satu seniman seni rupa Indonesia yang masuk dalam 500 Besar seniman yang karyanya terjual dengan harga tertinggi di bursa lelang di dunia.
Di sini Putu juga melihat, saat ini, orang yang mau naik sepeda di tengah hiruk pikuknya kendaraan bermotor (baik sepeda motor maupun mobil) yang menimbulkan kebisingan, polusi dan terancam keselamatannya di samping juga dianggap warga kelas 3, maka dia adalah seorang hero (pahlawan).
Dalam karyanya tiga dimensi ini, sepeda-sepeda ini akan disertai patung orang yang tengah mengayun kereta angin ini. Menurut rencana, ada yang memakai simbol Batman dan lain sebagainya yang saat ini dikenal sebagai tokoh hero.
"Sekarang ini kan orang naik sepeda itu kan bisa dikatakan sebagai hero. Hero sesungguhnya karena mereka masih memakai sepeda itu untuk bekerja ke kantor, ke pasar atau ke sawah," ujar Putu. Hero di sini, tambah Putu, juga bisa diartikan sebagai orang yang mencegah polusi di saat global warming.
Namun Putu menegaskan, kalaupun kini kelompoknya begitu fokus dengan keberadaan sepeda hanyalah sebatas mengingatkan saja, bukan mengajak warga untuk kembali naik sepeda. "Itu fungsi pemerintah," tegasnya lagi.
Untuk saat ini karya Kelompok Hitam Manis hanya diperuntukkan untuk keperluan Biennale saja. Kalau nantinya dipandang oleh penguasa Yogya baik dan diminta untuk dipermanenkan, maka Kelompok Hitam Manis akan bersedia mengerjakan. Termasuk jika ada yang mau menyumbang sepeda rongsokan. "Semua itu kan tergantung pada pak Walikota," kata Putu mengakhiri percakapannya.



Kirim Komentar