Pada bulan Maret 2010, DIY mengalami inflasi sebesar 0,13 persen. Inflasi ini disebabkan adanya kenaikan harga-harga yang ditunjukkan oleh naiknya angka indeks harga konsumen.
Kepala BPS DIY, Suharno menyatakan, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau naik 0,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar naik 0,29 persen, kelompok sandang naik 0,42 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,27 persen.
Sebaliknya kelompok bahan makanan turun 0,17 persen, kelompok kesehatan turun 0,01 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga turun sebesar 0,12 persen.
"Datangnya musim panen raya yang dibarengi dengan musim penghujan pada bulan Maret ini, berangsur-angsur harga beras mengalami penurunan, sebaliknya beberapa komoditas pertanian lainnya yaitu sayur mayur mengalami perubahan harga yang cukup signifikan," ujarnya.
Suharno menambahkan, indikasi ini tercermin dari hasil pemantauan harga-harga yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa selama bulan Maret 2010, DIY mengalami inflasi sebesar 0,13 persen dengan angka indeks 117,81 relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan indeks pada bulan Februari 2010 yang mencapai angka indeks 117,66. Sehingga laju inflasi pada tahun kalender 2010 (Maret 2010 terhadap Desember 2009) mencapai 1,00 persen.
"Komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga memberikan sumbangan terhadap inflasi umum antara lain upah tukang bukan mandor naik 2,09 persen dengan memberikan andil sebesar 0,08 persen, telur ayam ras naik sebesar 9,59 persen dengan memberikan andil sebesar 0,07 persen, jasa perpanjangan STNK naik 6,95 persen dengan andil 0,04 persen, nangka muda memberikan andil sebesar 0,03 persen, bawang merah, tomat sayur, daging ayam ras, jeruk dan ayam goreng masing-masing memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen," paparnya.
Sebaliknya komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil negatif di antaranya adalah beras turun sebesar 4,85 persen dengan memberikan andil sebesar -0,17 persen, cabe merah turun sebesar 40, 35 persen dengan andil -0,09 persen, besi beton turun 4,77 persen dengan andil -0,03 persen, cabe rawit turun 16,50 persen dengan memberikan andil sebesar -0,02 persen, salak, gula pasir, laptop/notebook, semen, kentang dan cabe hijau masing-masing memberikan andil sebesar -0,01 persen.
Dari 66 kota yang dihitung angka inflasinya pada bulan Maret 2010, 19 kota mengalami inflasi dan 47 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Singkawang yaitu sebesar 1,70 persen, sedangkan inflasi terendah dialami kota Kendari yaitu 0,01 persen. Sebaliknya kota yang mengalami deflasi terbesar kota Sibolga sebesar 0,96 persen dan terendah kota Jambi sebesar 0,05 persen.
Sedangkan laju inflasi tahun kalender 2010 dari Maret 2010 terhadap Desember 2009 sebesar 1,00 persen. Sedangkan laju inflasi year on year dari Maret 2010 terhadap Maret 2009 sebesar 3,35 persen.
Kepala BPS DIY, Suharno menyatakan, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau naik 0,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar naik 0,29 persen, kelompok sandang naik 0,42 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,27 persen.
Sebaliknya kelompok bahan makanan turun 0,17 persen, kelompok kesehatan turun 0,01 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga turun sebesar 0,12 persen.
"Datangnya musim panen raya yang dibarengi dengan musim penghujan pada bulan Maret ini, berangsur-angsur harga beras mengalami penurunan, sebaliknya beberapa komoditas pertanian lainnya yaitu sayur mayur mengalami perubahan harga yang cukup signifikan," ujarnya.
Suharno menambahkan, indikasi ini tercermin dari hasil pemantauan harga-harga yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa selama bulan Maret 2010, DIY mengalami inflasi sebesar 0,13 persen dengan angka indeks 117,81 relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan indeks pada bulan Februari 2010 yang mencapai angka indeks 117,66. Sehingga laju inflasi pada tahun kalender 2010 (Maret 2010 terhadap Desember 2009) mencapai 1,00 persen.
"Komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga memberikan sumbangan terhadap inflasi umum antara lain upah tukang bukan mandor naik 2,09 persen dengan memberikan andil sebesar 0,08 persen, telur ayam ras naik sebesar 9,59 persen dengan memberikan andil sebesar 0,07 persen, jasa perpanjangan STNK naik 6,95 persen dengan andil 0,04 persen, nangka muda memberikan andil sebesar 0,03 persen, bawang merah, tomat sayur, daging ayam ras, jeruk dan ayam goreng masing-masing memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen," paparnya.
Sebaliknya komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil negatif di antaranya adalah beras turun sebesar 4,85 persen dengan memberikan andil sebesar -0,17 persen, cabe merah turun sebesar 40, 35 persen dengan andil -0,09 persen, besi beton turun 4,77 persen dengan andil -0,03 persen, cabe rawit turun 16,50 persen dengan memberikan andil sebesar -0,02 persen, salak, gula pasir, laptop/notebook, semen, kentang dan cabe hijau masing-masing memberikan andil sebesar -0,01 persen.
Dari 66 kota yang dihitung angka inflasinya pada bulan Maret 2010, 19 kota mengalami inflasi dan 47 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Singkawang yaitu sebesar 1,70 persen, sedangkan inflasi terendah dialami kota Kendari yaitu 0,01 persen. Sebaliknya kota yang mengalami deflasi terbesar kota Sibolga sebesar 0,96 persen dan terendah kota Jambi sebesar 0,05 persen.
Sedangkan laju inflasi tahun kalender 2010 dari Maret 2010 terhadap Desember 2009 sebesar 1,00 persen. Sedangkan laju inflasi year on year dari Maret 2010 terhadap Maret 2009 sebesar 3,35 persen.



Kirim Komentar