
Dalam rangka memeringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada hari ini, Pemkot Yogyakarta bekerjasama dengan Quit Tobacco Indonesia, Fakultas Kesehatan UGM meluncurkan klinik berhenti merokok di Kompleks Balaikota Yogyakarta, Senin (31/5).
Pada kesempatan tersebut, Ketua Quit Tobacco Indonesia, Fakultas Kesehatan UGM, Yayi Surya Prabandini menyatakan sebenarnya hampir setiap perokok menginginkan untuk berhenti merokok, tapi sejumlah hal tak memungkinkannya untuk berhenti.
"Beberapa penelitian menemukan bahwa sekitar 70-80 persen perokok ingin berhenti merokok. Namun sedikitnya dukungan bagi mereka, maka hanya sekitar 3 persen yang berhasil berhenti merokok tanpa bantuan siapa-siapa," katanya.
Mengenai peluncuran klinik konsultasi berhenti merokok di Kompleks Balaikota, Yayi sangat menyambut baik praktik tersebut. "Layanan tersebut nantinya akan memberikan bantuan dan pendampingan bagi karyawan Pemkot Yogyakarta khususnya yang ingin berhenti merokok," terangnya.
Sementara itu konsultan berhenti merokok dr. Endang Sri Rahayu menilai berhenti merokok memang tidaklah mudah, tapi jika seseorang memang mempunyai tekad yang besar untuk melakukannya, seluruh pihak pun akan mendukungnya.
"Yang paling penting adalah niat untuk berhenti merokok dulu. Selain itu perokok harus diberikan pengetahuan tentang bahaya merokok bagi kesehatan," katanya.
Pada awalnya, dr Endang menambahkan, untuk berhenti merokok memang sangat berat. Untuk itu, biasanya pada tahap awal, seseorang yang berhenti merokok harus melupakan dan menghilangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rokok.
Kemudian, untuk membantu melupakan merokok, seseorang diimbau untuk melakukan sejumlah aktivitas hobi ketika berada dalam waktu senggang yang biasanya dulu digunakan untuk merokok. "Kalau mau diganti dengan memakan permen atau ngemil juga tidak apa-apa," ujarnya.
Selain itu, dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan akan sangat membantu seseorang untuk berhenti merokok yang notabene sama sekali tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan bahkan mengganggu orang lain di sekitarnya.
Sejak dibukanya klinik berhenti merokok di puskesmas di Kota Yogyakarta pada 12 November lalu, hingga saat ini setidaknya telah ada 150 pasien yang memanfaatkan layanan tersebut.



Kirim Komentar