Saat ini, panatacara upacara pengantin gaya Yogyakarta yang dipraktikkan di dalam masyarakat dinilai banyak yang tidak sesuai dengan pakem panatacara yang seharusnya di lakukan.
Hal tersebut dinyatakan oleh Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Nilai-nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Widiyastuti dalam lomba panatacara pengantin gaya Yogyakarta di Ruang Utama Atas, Balaikota Yogyakarta, Selasa (8/6).
"Di masyarakat saat ini, panatacara banyak yang rancu. Beberapa bagian yang penting malah dihilangkan seperti nyondro pengantin yang seharusnya malah dinantikan oleh masyarakat," katanya.
Menurutnya, bagian nyondro sering ditinggalkan oleh panatacara karena iringan musik Jawa yang terkenal dengan iringan gendhingnya yang ramai. "Nyondro itu adalah prosesi memuji pengantin," paparnya.
Untuk itu, Pemkot Yogyakarta menggelar lomba panatacara sebagai usaha mensosialisasikan panatacara serta mengembangkan salah satu budaya tradisi Jawa yang masih ada saat ini.
Lebih lanjut Widiyastuti menyatakan saat ini profesi panatacara masih dibutuhkan dalam setiap upacara pernikahan gaya tradisional Yogyakarta. "Dengan lomba ini, Pemkot juga ingin melihat perkembangan profesi panatacara," tambahnya.
Dengan lomba ini, Pemkot ingin memberikan pengetahuan terkait dengan tatacara dan aturan panatacara yang benar menurut gaya Yogyakarta.
Pada lomba panatacara yang diikuti oleh sebanyak 36 peserta tersebut, kriteria yang dinilai meliputi tata bahasa, sikap, iringan, dan prosesi dalam membawakan panatacara.



Kirim Komentar