Membuat sebuah pengantar pameran yang berisi 4 buah seri yang berbeda ini memang terasa sulit, khususnya jika bermaksud untuk menarik sebuah garis yang menghubungan mereka. Setidaknya bisa dikelompokkan menjadi 2. Pertama, fotografi performatif yang diwakili oleh karya Arif dan Pungky. Kedua adalah staged photography (fotografi yang dipentaskan atau disini lebih dikenal dengan istilah setting) yaitu seri dari Fehung dan Abud. Jika dilihat sekilas, kedua model pendekatan ini nyaris sama; namun sangat berbeda. Perbedaanya ada pada keterkaitan antara obyek dengan realitas. Dalam fotografi performatif, seniman merekayasa sebuah peristiwa yang nyaris tidak ada padanannya dalam realitas sehari-hari; membentuk sebuah fiksi atau metafora tertentu sebagai kendaraan atas gagasan-gagasan yang ingin ia kemukakan. Hal ini bisa dilihat dalam karya Pungky dan Arif. Pungky membuat semacam tiruan binatang, dengan mengarahkan model-modelnya untuk membentuk anatomi binatang tertentu. Disini ia berperan sebagai sutradara dan koreografer, dimana gesture dikontrol, anatomi dibentuk dan arah disesuaikan. Arif, dengan ketelatenannya, meng-kamuflasekan modelnya di sudut-sudut ruang publik, dengan scene-scene peristiwa tertentu yang ia pilih.
Peristiwa-peristiwa pada kedua seri diatas tentu saja tidak ada padanannya dalam realitas, dimana tokoh-tokoh tidak memerankan diri atau orang lain, ini hanyalah fiksi. Peristiwa rekaan ini menjadi semacam lokomotif yng membawa deretan gerbong makna lain dibelakangnya. Dalam staged photography, peristiwa direkayasa, ditata dan diarahkan, bukan membentuk sebuah peristiwa baru atau peristiwa fiksi, namun untuk memberi tekanan atau dramatisasi. Disini model memerankan diri mereka sendiri, mendramakan kehidupannya sendiri.
Peristiwa yang direkam adalah peristiwa nyata yang diulang dengan perubahan atau penambahan unsur-unsur tertentu. Dalam karya Fehung, potret ibu dan bapaknya merupakan sebuah peristiwa yang ia pentaskan, ia posekan. Namun mereka berperan sebagai diri sendiri, dalam konteks dan tempat yang nyata. Gesture yang Fehung arahkan hanyalah sebuah tekanan atas maksud yang ia ingin nyatakan. Peristiwa itu bukanlah ikon atau metafora yang membawa makna diluar dirinya. Demikian pula dengan karya Abud, dimana ia mendokumentasikan fitur-fitur kesamaan antara beberapa individu. Ia memaksa mereka menggunakan baju yang sama sekaligus berpose sama pula. Potret yang dihasilkan tetap potret personal dari manusia-manusia nyata, tidak lebih tidak kurang.
Pameran NEW Folder ini memang sengaja dipersiapkan persis dengan hari ulang tahun MES 56 ke 9. Ulang tahun ini terasa istimewa, meski kita merencanakan akan lebih istimewa lagi pada momen berikutnya. Mengapa istimewa? Karena tahun ini adalah kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya yang sangat menakjubkan prosesnya bagi perkembangan MES 56 dan fotografi di Indonesia.
NEW Folder adalah kompilasi karya-karya terbaru dari Abud, Arif, Fehung dan Pungky yang proses kuratorialnya dimulai sejak Februari 2010. Dalam rentang satu tahun tersebut mereka dan MESboys mempunyai jadwal yang berkala untuk selalu membahas dan mengembangkan konsep-konsep yang mereka bangun. Akhirnya folder baru ini adalah kebanggaan kami sebagai salah satu tahapan bagaimana sebuah institusi independen untuk bisa dengan rajin menghasilkan seniman-seniman muda dan baru di dalam wacana fotografi kontemporer Indonesia.



Kirim Komentar