
Tersisa 3 hari lagi pameran "The Nature of Japan Seasional Transition" hingga 6 April mendatang. Aje Boyron untuk pertama kalinya memamerkan hasil capture fotonya di jogja Gallery di Jl. Pekapalan no. 7, alun-alun utara yogyakarta. Foto ini menggambarkan suasana Negara Jepang dalam 4 musim yang ada saat ini. event ini merupakan salah satu pengimbang dari pemberitaan media yang lebih banyak memberikan informasi mengenai bencana tsunami yang telah terjadi beberapa waktu lalu.
Jepang yang notabene memiliki musim panas, semi, gugur dan musim hujan ternyata memiliki
keindahan yang beragam. Dari aspek inilah Aje Boyron mencoba untuk memberikan suasana yang menarik untuk dinikmati. Berawal
dari keinginannya bekerja di negara Jepang, ia mencoba menggeluti dunia fotografi secara mendalam. Setelah dirasa cukup untuk
belajar dalam bidang fotografi, akhirnya ia mencoba untuk mengeksplorasi alam yang ada di negara itu.
"Saya dapat mengabadikan semua musim yang ada di negara itu lantaran saya bekerja di
Jepang." Begitu katanya saat ditemui tim Gudegnet. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat mengabadikan setiap gambar ia harus
berjuang keras untuk melawan kerasnya musim maupun jauhnya lokasi yang harus di tempuh. Saat tiba salju misalnya, ia harus
mempersiapkan bekal yang cukup agar tidak kedinginan saat ia harus menaiki puncak Fujiyama dikala salju datang. Waktu itu ia
ditemani 15 orang yang lain saat ia berkunjung untuk mengabadikan Gunung Fujiyama yang diselimuti salju.
"Setiap frame yang saya ambil ternyata memiliki makna dan tingkat perjuangan yang berbeda,
sehingga apa yang saya rasakan saat mengambil foto benar-benar luar biasa." Ia menjelaskan bahwa saat itu ia tertarik dengan
legenda mitos kekeisaran Jepang, Hingga suatu ketika ia dapat berkunjung di sungai Takachiho untuk mengambil gambar dilokasi
tersebut. Memang, suasana di sungai tersebut sangat indah dan asri. Ia juga menjelaskan betapa pedulinya masyarakat Jepang
akan kebersihan.
Boyron memberikan informasi bahwa di Takachiho goerge itu mendapatkan perawatan exta dikala
objek wisata itu akan dibuka untuk umum. Salah satu contoh kecilnya berupa pembersihan sampah pada pukul 7 pagi kemudian
mulai dibuka untuk umum 1 jam kemudian. Tidak hanya itu saja, namun kapal boat yang disediakan di sungai indah itu juga
dibatasi jumlah penggunanya. Ini dimaksudkan agar wisatawan dapat menikmati alam secara privat.
Dalam obrolannya dengan Gudegnet, Aje Boyron yang kini tinggal di Jakarta tersebut
mengatakan bahwa seluruh foto yang ia tampilkan tidak pernah melalui proses digital. Ia lebih menonjolkan sisi keindahan dan
potensi alam yang ada di Jepang. Ia menambahkan bahwa masyarakat dinegara itu mempunyai komitmen besar dalam menjaga alamnya.
Loyalitas, kedisiplinan serta kemampuan untuk menghargai alam itulah yang selalu ia dambakan agar dapat ditiru oleh bangsa
Indonesia pungkasnya.



Kirim Komentar