Bantul Yuso Gunadharma harus mengakui kehebatan Jakarta Sananta di hadapan pendukungnya sendiri. Bermain di GOR Pangukan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (7/3), Bantul Yuso Gunadharma menyerah 1-3 (20-25, 21-25, 25-22, 21-25).
Dukungan lebih dari 3.000 penonton tidak mampu membuat M Zainudin dan kawan-kawan mengimbangi permainan lawan. Sehari sebelumnya mereka mampu mengalahkan Jakarta BNI 46 dengan skor 3-2.
"Para pemain terburu-buru. Mereka memang bersemangat, tetapi terlalu tinggi. Kontrol kurang bagus, penerimaan bola pertama juga kurang bagus, sehingga gagal membuahkan serangan baik," kata manajer tim Bantul Yuso Gunadharma, Putut Marhaento.
Menurut Putut, jika para pemainnya lebih sabar dalam bermain, peluang untuk memenangi pertandingan masih ada. "Sayang, justru pemain kami membuang peluang," paparnya.
Dikatakan, lawan memang bermain lebih bagus, dengan blok-bloknya yang rapat dan servis lompatnya yang sulit untuk dikembalikan.
Dua pemain asing Jakarta Sananta, yakni Diego Stephanenko dan Darko Milosevic, menurut Putut, juga bermain bagus. Dua pemain itu mampu menutupi kekurangan Jakarta Sananta selama ini, yaitu posisi quicker yang lemah. Dengan ada dua pemain asing tersebut, maka tosser Erwin Rusni dapat membagi bola ke segala sisi. Di posisi open quicker, berdiri Joko Murdiyanto dan andalan tim nasional M. Riviansyah.
"Jika pemain kami jeli, sebenarnya bisa menjinakkan pemain asing, karena mereka sudah lemah di set terakhir tadi. Harusnya dapat membaca permainan lawan. Fisik pemain kami saya kira juga tidak masalah meskipun kemarin bermain lima set," katanya.
Bantul Yuso Gunadharma hanya memainkan pemain asingnya asal Jepang, Keisuke Nakajima sekali. Dia hanya diturunkan ketika kedudukan 21-24 di set penentuan. Pemain ini hanya menyentuh bola sekali, yaitu lewat service lompatannya. Servicenya memang tidak mengecewakan karena membuat pemain Jakarta Sananta kewalahan. Bola pun dikembalikan sekenanya. Justru di sini pemain Bantu Yuso Gunadharma lengah, karena bola jatuh lemah di sisi kosong. Akibatnya, skor pun menjadi 21-25.
"Pemain kami bermain luar biasa dan sabar. Mereka dapat bermain bagus meskipun di bawah tekanan penonton. Dan di luar dugaan, Bantul Yuso Gunadharma bermain kurang baik tadi," kata asisten pelatih Jakarta Sananta, Ade Kelana Nur.
Menurut kapten tim Jakarta Sananta, Joko Murdiyanto, kunci kemenangan timnya ada di kuatnya blok dan service yang sangat bagus. Selain itu, umpannya juga berjalan mulus sehingga selalu menghasilkan umpan matang. "Mungkin Bantul Yuso Gunadharma kelelahan juga karena kemarin bermain lima set," ujarnya.
Service lompat yang dilesakkan M. Riviansyah, Diego, dan Darko, memang banyak menghasilkan poin.
Dukungan lebih dari 3.000 penonton tidak mampu membuat M Zainudin dan kawan-kawan mengimbangi permainan lawan. Sehari sebelumnya mereka mampu mengalahkan Jakarta BNI 46 dengan skor 3-2.
"Para pemain terburu-buru. Mereka memang bersemangat, tetapi terlalu tinggi. Kontrol kurang bagus, penerimaan bola pertama juga kurang bagus, sehingga gagal membuahkan serangan baik," kata manajer tim Bantul Yuso Gunadharma, Putut Marhaento.
Menurut Putut, jika para pemainnya lebih sabar dalam bermain, peluang untuk memenangi pertandingan masih ada. "Sayang, justru pemain kami membuang peluang," paparnya.
Dikatakan, lawan memang bermain lebih bagus, dengan blok-bloknya yang rapat dan servis lompatnya yang sulit untuk dikembalikan.
Dua pemain asing Jakarta Sananta, yakni Diego Stephanenko dan Darko Milosevic, menurut Putut, juga bermain bagus. Dua pemain itu mampu menutupi kekurangan Jakarta Sananta selama ini, yaitu posisi quicker yang lemah. Dengan ada dua pemain asing tersebut, maka tosser Erwin Rusni dapat membagi bola ke segala sisi. Di posisi open quicker, berdiri Joko Murdiyanto dan andalan tim nasional M. Riviansyah.
"Jika pemain kami jeli, sebenarnya bisa menjinakkan pemain asing, karena mereka sudah lemah di set terakhir tadi. Harusnya dapat membaca permainan lawan. Fisik pemain kami saya kira juga tidak masalah meskipun kemarin bermain lima set," katanya.
Bantul Yuso Gunadharma hanya memainkan pemain asingnya asal Jepang, Keisuke Nakajima sekali. Dia hanya diturunkan ketika kedudukan 21-24 di set penentuan. Pemain ini hanya menyentuh bola sekali, yaitu lewat service lompatannya. Servicenya memang tidak mengecewakan karena membuat pemain Jakarta Sananta kewalahan. Bola pun dikembalikan sekenanya. Justru di sini pemain Bantu Yuso Gunadharma lengah, karena bola jatuh lemah di sisi kosong. Akibatnya, skor pun menjadi 21-25.
"Pemain kami bermain luar biasa dan sabar. Mereka dapat bermain bagus meskipun di bawah tekanan penonton. Dan di luar dugaan, Bantul Yuso Gunadharma bermain kurang baik tadi," kata asisten pelatih Jakarta Sananta, Ade Kelana Nur.
Menurut kapten tim Jakarta Sananta, Joko Murdiyanto, kunci kemenangan timnya ada di kuatnya blok dan service yang sangat bagus. Selain itu, umpannya juga berjalan mulus sehingga selalu menghasilkan umpan matang. "Mungkin Bantul Yuso Gunadharma kelelahan juga karena kemarin bermain lima set," ujarnya.
Service lompat yang dilesakkan M. Riviansyah, Diego, dan Darko, memang banyak menghasilkan poin.



Kirim Komentar