Komunitas Seniman Yogya dan didukung penuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut rencana, celengan-celengan ini mulai dipasang pada Senin (15/11) dan akan dipecah pada 15 Desember 2010. Seluruh hasilnya akan diserahkan ke PMI untuk kemudian disalurkan untuk membantu para korban Merapi.
Sebelum dipasang, celengan-celengan ini akan dilukis oleh para seniman Jogja yang dimotori oleh dedengkot mural Jogja, Samuel Indratma. "Ada sekitar 100 celengan yang akan dilukis oleh seratus seniman pula," tutur Samuel yang memulai melukis celengan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (13/11).
Sementara Spesialis Pendidikan, Direktorat Pendidikan & Pelayanan Masyarakat KPK Adhi Setyo Tamtomo menuturnkan, acara melukis celengan ini bertema "Korupsi Juga Bencana: Eling lan Waspada".
Hal ini dimaksudkan, tindak korupsi bisa menyebabkan ribuan bahkan jutaan rakyat menderita. "Rakyat yang semestinya menikmati sebuah pembangunan jalan, misalnya, malah dirampas haknya dengan semena-mena oleh orang yang hanya mementingkan perutnya sendiri," ujarnya.
Dengan begitu, menurut Adhi, korupsi bisa dikategorikan sebagai bencana pula. Untuk itu, masyarakat diminta eling dengan dampak yang terjadi bila melakukan korupsi. Demikian pula agar waspada, ketika diajak korupsi berjamaah.
"Ingatkan mereka yang baru mau melakukan, dan laporkan bila anda mengetahui tindak pidana korupsi," tambah Herman Abdurrahman, Direktur Anti Corruption Student Community (ACSC).
Tak ada yang melarang orang untuk menjadi kaya di Indonesia ini. Asalkan, kata Adhi, semua itu didapat dengan cara halal. Menjadi kaya bisa ditempuh dengan bekerja keras dan tetap mentaati aturan yang berlaku. Upah atau gaji yang didapat, kemudian disisihkan sebagian untuk ditabung baik di bank ataupun dimasukkan dalam celengan.
"Ini cara memupuk kekayaan dengan mulia dan tak melanggar hukum," ungkapnya lagi.
Kembali pada soal celengan untuk korban Merapi yang dipasang di titik nol ini, Herman yang kini masih kuliah di Fakultas Hukum UGM, terinspirasi dengan gerakan solidaritas nasi bungkus warga Daerah Istimewa Yogyakarta terkait dengan penderitaan warga lereng Merapi yang mengungsi.
Gerakan solidaritas ini, menurut Herman, harus diacungi jempol dan diapresiasi terlebih Jogja dikenal sebagai kota yang multikultur. "Betapa tingginya rasa kemanusiaan dan empati warga Jogja tanpa melihat agama, golongan atau apapun juga," ujarnya.
Untuk itulah Herman ingin mengajak warga Yogya kermbali melakukan aksi solidaritas dengan memasukkan uang di celengan raksasa yang terpasang di titik nol. "Mau seratus rupiah, seribu rupiah atau berapapun silakan. Bukan jumlahnya, namun rasa solidaritas yang dipentingkan," terangnya.
"Kami berharap uang yang dimasukkan ke celengan untuk korban Merapi ini hendaknya jangan uang hasil korupsi. Tapi betul-betul dari jerih payah sendiri tanpa merugikan orang dan dilandasi hati yang tulus serta ikhlas," tambahnya.
Adhi juga yakin, masyarakat Yogya akan mendukung sepenuhnya gerakan ini. "Begitu indahnya jika warga Yogya yang dikenal begitu kentalnya rasa solidaritas ini juga memproklamirkan diri sebagai masyarakat anti korupsi," pungkasnya.



Kirim Komentar