www.gudeg.net, Yogyakarta - Senin (21/5) pagi, letusan freatik Merapi kembali terjadi sebanyak dua kali, pada pukul 01.25 WIB dan 9.38 WIB. Durasi letusan pertama terjadi selama 19 menit dengan ketinggian asap 700 m, sedangkan letusan kedua terjadi selama 6 menit dengan ketinggian asap 1200 m. Sebelumnya, letusan freatik Merapi terjadi pada 11 Mei 2018 lalu pukul 07.32 WIB.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida mengatakan, erupsi freatik tidak berdampak besar seperti halnya erupsi magmatik, namun tetap harus diwaspadai lontaran material berupa abu vulkanik.
“Kalau terjadi erupsi freatik, masyarakat harus tenang, tidak panik. Dari jarak 2 KM dari puncak tidak ada aktifitas, kemudian menggunakan masker, selama tidak ada hujan,” tutur Hanik ketika ditemui di kantornya Senin (21/5).
“Letusan freatik ini adalah letusan yang disebabkan karena panas dan ada kontak dengan media, air. Kemudian menghasilkan uap dan gas. Itu yang menyebabkan erupsi,” terangnya. Ia menganalogikan dengan kereta api tenaga uap. “Kan itu uapnya bisa sampai menggerakkan turbin ya. Jadi memang uap air itu punya kekuatan yang sangat besar,” ucapnya.
Letusan freatik ini berbeda dengan letusan magmatik. “Kalau letusan magmatik itu pergerakan magma dari dalam, menuju ke permukaan. Sedangkan kalau freatik hanya di permukaan, kemudian diletupkan," terangnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, erupsi freatik ini kemungkinan bisa saja terjadi lagi, namun tak bisa dideteksi seperti halnya pada erupsi magmatik. “Erupsi freatik kita tidak bisa mendeteksi, seperti erupsi magmatik. Deteksi awal itu tidak muncul,” tuturnya. Berbeda halnya dengan deteksi awal erupsi magmatik yang dapat diamati dari gempa vulkanik A, gempa vulkanik B, low frequency, dan lainnya.
Erupsi freatik yang terjadi pada 11 Mei 2018 lalu adalah erupsi freatik ketujuh setelah erupsi 2010. Dengan demikian erupsi kedua hari ini merupakan letusan kesembilan.
Menurut Hanik letusan freatik Merapi ini tidak berdampak memicu letusan magmatik. “Bisa juga ini menjadi awal dari akan terjadinya erupsi magmatik, tetapi sampai saat ini tanda-tanda itu belum ada,” jelasnya.




Kirim Komentar