
Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam usahanya mewujudkan dan mempertahankannya, Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Kenduri Rakyat yang digelar di Gedung DPRD Propinsi DIY, Jl. Malioboro Yogyakarta, Kamis pagi (23/9).
Dalam kegiatan tersebut, puluhan orang yang mengenakan pakaian adat Jawa menggelar ritual adat Jawa lengkap dengan tumpeng dan ubarampe-nya. Dalam ritual doanya, mereka berharap agar wakil rakyat yang duduk di DPRD DIY turut berjuang mempertahankan keistimewaan DIY.
Koordinator Kenduri Rakyat, Sugeng Santoso menyatakn, kegiatan ini dimaksudkan untuk mempertahankan keistimewaan DIY sebagai pusat kebudayaan, pusat pendidikan yang harus mencerminkan bangsa Indonesia.
"Kebangkitan kebudayaan adat itu sendiri harus disamakan melalui pintu yang sama karena jati diri bangsa Indonesia terletak pada bagaimana kita menghargai budaya itu," ujarya di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, jika sebuah bangsa meninggalkan budayanya, itu sama saja dengan menghilangkan jati diri bangsa tersebut. Jadi segalanya harus dikembalikan melalui kebudayaan, atau akan terjadi chaos.
Pada kesempatan tersebut, Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat dengan tegas menuntut anggota dewan DPRD DIY untuk menyampaikan aspirasi rakyat Yogyakarta kepada pemerintah pusat.
"Keistimewaan DIY adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai gubernur dan Sri Paduka Pakualam sebagai wakil gubernur," tegasnya.
Meski demikian, pihaknya masih akan memaklumi jika Sultan tak lagi bersedia memangku jabatan sebagai Gubernur DIY karena faktor fisik. "Kalaupun Sultan HB X tidak lagi berkenan menjabat gubernur DIY karena alasan usia, itu bisa dipahami, yang penting adalah pemerintah harus mengesahkan RUU keistimewaan DIY menjadi UU," terangnya seraya menyatakan bahwa nantinya Sultan bisa saja menentukan siapa yang akan menjadi suksesornya kelak.



Kirim Komentar